Selasa, 03 Mei 2011

SKRIPSI IPS (SUATU TINJAUAN TENTANG FILOSOFI RUMOH ACEH)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Rumoh Aceh (rumah tempat tinggal orang Aceh) kelihatan sangat sederhana. Karena terbuat dari bahan-bahan yang juga tergolong sederhana. Bahan-bahan Rumoh Aceh terdiri dari kayu, pohon kelapa, bambu dan atapnya terbuat dari daun rumbia (on meuria)atau daun kelapa yang biasa diikat dengan rotan. Meskipun rumoh aceh kelihatan sederhana, namun semua satuan-satuan yang terdapat didalamnya mempunyai arti khusus bagi Adat dan Kebudayaan Aceh.

Adat dan Kebudayaan suatu masyarakat sangat di pengaruhi olehkondisi geografis di mana masyarakat itu berada. Bahkan juga di pengaruhi oleh sistem kepercayaan yang di anutnya. Begitu jg halnya tentang Rumoh Aceh banyak di pengaruhi oleh faktor geografis.
Denah Rumoh Aceh biasa menghadap ke Timur dan ke Barat, sehingga letak nya persis membujur dari Timur ke Barat. Hal ini disebabkan oleh faktor geografis dimana angin di daerah Aceh. Biasanya bertiup dari Timur ke Barat atau sebaliknya. Bahkan angin yang paling kencang di daerah Aceh disebut angen barat ( angin barat ). Jadi penempatan posisi rumah yang demikian. Sangat mendukung bagi keamanan rumah dari hempasan angin kencang ( angin barat ). Selain itu, penempatan rumah yang demikian sangat membantu untuk menentukan arah akibat shalat yang tepat dalam rumah.
Rumoh Aceh biasanya didirikan diatas tiang-tiang setinggi 2 sampai dengan 2,5 meter dari atas tanah. Hal ini juga merupakan tidak terlepas dari faktor geografis yangs angat berhubungan dengan keamanan, diman sebahagian besar daerah Aceh terletak di bagian pesisir ujung sebelah Timur pulau Sumatra  yang merupakan wilayah yang sangat rawan banjir, kecuali di daerah Aceh Tengah dan Tenggara. Di samping itu, dulunya daerah Aceh merupakan daerah hutan yang banyak dihuni oleh binatang buas. Jadi Konstruksi bangunan yang demikian sangat membantu untuk menjaga keselamatan penghuninya dari banjir dan binatang buas.
Disamping itu, ada hal yang ganjil dalam arsitektur Rumoh Aceh dimana rumahnya besar, tetapi pintu dan jendelanya kecil-kecil. Hal ini banyak dipengaruhi oleh etika (akhlak) pergaulan yang telah mengakar dalam masyarakat Aceh. Sifat orang Aceh dari luar ;kelihatannya sangat tertutup sehingga banyak anggapan yang menyatakan orang aceh sangat kejam. Bahkan sifat tertutupnya itu, rakyat Aceh sangat ditakuti oleh Belanda pada masa penjajahan, padahal sebenarnya rakyat Aceh sangat terbuka dan peramah.
Untuk mendirikan Rumoh Aceh tidaklah semudah mendirikan bangunan-bangunan lainnya, sebab dalam pendirian Rumoh Aceh terdapat ketentuan-ketentuan khususnya yang harus dilaksanakan sesuai menurut adat dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat setempat yang dinamakan dengan “Upacara Adat”. Upacara Adat dalam mendirikan Rumoh Aceh ada tiga tahap, pertama upacara Adat yang dilaksanakan pada saat pengambilan bahan dari hutan, kedua upacara Adat ketika hendak mendirikan rumah, dan yang ketiga upacara setelah bangunan selesai atau saat hendak menempati rumah baru. Masing-masing dari ketiga upacara adat tersebut memiliki makna dan tujuan tersendiri.
Apabila diteliti lebih mendalam tentang exsistensi Rumoh Aceh  ternyata banyak sekali ditemukan hal-hal ganjil yang sangat menarik untuk dikaji secara ilmiah, terutama dalam kaitannya dengan budaya Islam. Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis ingin melakukan penelitian secara mendalamdengan judul “Filosofi Rumoh Aceh”. Dan adapun yang menjadi rumusan masalah dalam pembahasan ini sebagai berikut :
1.      Bagaimana eksistensi Rumoh Aceh dalam kaitannya dengan budaya?
2.      Bagaimana urgensi Rumoh Aceh dalam pembinaan generasi muda?
3.      Bagaimana hubungan konstruksi Rumoh Aceh dengan nilai-nilai Islam?

1.2 Alasan Pemilihan Judul
Penulis menulis judul ini dengan alasan adalah :
1.      Ingin mengetahui tentang kisah atau riwayat dari pada Rumoh Aceh
2.      Penulis ingin mengetahui makna sesungguhnya dari pada Rumoh Aceh.

1.3 Tujuan Penelitian
1.      Ingin mengetahui eksistensi Rumoh Aceh dalam kaitannya dengan budaya.
2.      Ingin mengetahui urgensi Rumoh Aceh dalam pembinaan generasi muda.
3.      Ingin mengetahui hubungan konstruksi Rumoh Aceh dengan nilai-nilai Islam.

1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini secara umum dapat menjadi informasi bagi pihak-pihak yang ingin mengkaji secara mendalam tentang filosofi rumoh Aceh. Di samping itu, secara khusus penelitian ini menjadi sumbangan pengetahuan bagi masyarakat, sehingga dapat mengetahui secara mendalam filosofi yang terdapat dalam rumoh Aceh.

1.5 Anggapan Dasar
Ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan secara garis besar yang terdapat dalam judul skripsi ini.

1.6 Metode Penelitian
A.    Metode dan Teknik Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan metode sejarah (historis) sebagai metode yang lazim digunakan untuk meneliti hal-hal yang berkaitan dengan sejarah. Metode itu sendiri berarti cara, jalan, atau petunjuk pelaksanaan atau petunjuk pelaksanaan atau petunjuk teknis. Menurut Suryabrata (1994:16) tujuan penelitian historis adalah : “untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasikan, serta mensistensiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat”, semua upaya tersebut harus melalui proses pengumpulan data.
Pengumpulan data skripsi ini dilakukan dengan penulisan dengan penulisan kepustakaan (library research). Proses ini ditempuh dengan mengumpulkan sejumlah sejumlah sumber tertulis di berupa buku, atau karya ilmiah lainnya menggunakan metode sejarah. “Walaupun penelitian historis mirip dengan penelaahan kepustakaan yang mendahului lain-lain bentuk rancangan penelitian, namun cara pendekatan historis adalah lebih tuntas, mencari informasi dari sumber yang lebih luas” (Suryabrata, 1994:17).
B.     Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Menurut Notosusanto (1978:11), langkah-langkah yang harus dtempuh bila menggunakan metode sejarah, yaitu heuristic, kritik, interprestasi serta pengkisahan. Yang dimaksud dengan heuristic adalah pengumpulan dan pencarian sumber sejarah atau dokumen, dan isinya yang kemudian dikaji agar dapat dipercaya kebenarannya. Seleksi terhadap sumber tadi dilakukan dengan cara kritik intern maupun kritik ekstern, guna melahirkan suatu penulisan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, atau apa yang dikenal dengan “sejarah kritis”. Setelah diadakan kritik terhadap sumber, maka perlu pemahaman tentang dasar dengan membuat interprestasi, dan dilanjutkan dengan penyusunan atau pengkisahan.

1.7  Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini, sebagai berikut :
1.      Rumoh Aceh merupakan salah satu bangunan yang memiliki nilai sejarah dilihat dari kultur dan budaya masyarakat Aceh.
2.      Tidak semua masyarakat Aceh memahami makna yang terkandung pada konstruksi dan ornamen yang terdapat pada rumoh Aceh.

1.8  Sistematika Penulisan
Bab I, pendahuluan yang berisikan tentang latar belakang masalah, alasan pemilihan judul, tujuan penelitian, manfaat penelitian, Anggapan dasar, hipotesis penelitian Sistematika penulisan.
Bab II, Gambaran umum tentang rumoh Aceh, yang membahas tentang sejarah rumoh Aceh, arsitektur rumoh Aceh, ciri-ciri khas rumoh Aceh, fungsi rumoh Aceh, bahan rumoh Aceh dan cara ,mengolahnya, serta pembagian dan fungsi ruangan rumoh Aceh.
Bab III, metode penelitian yang membahas tentang metode dan teknik penelitian serta teknik pengolahan dan analisis data.
Bab IV, hasil penelitian dan pembahasan. Kajiannya meliputi : eksistensi rumoh Aceh dalam kaitannya dengan budaya, urgensi rumoh Aceh dalam pembinaan generasi muda, serta hubungan konstruksi rumoh Aceh dengan nilai-nilai Islam.
Bab V, penutup yang berisikan tentang kesimpulan dan saran-saran.


8

 
BAB II
LANDASAN TEORITIS

2.1 Sejarah Rumoh Aceh
Rumah tempat tinggal orang Aceh tersebut dengan Rumoh Aceh, dengan letak bangunannya membujur dari arah timur ke barat. Rumoh Aceh dibangun di atas sejumlah tiang-tiang bundar yang jumlahnya tiang itu antara 20-24 buah. Dengan diameter 30 cm, yang tinggi bangunan sampai batas lantai lebih kurang 2,5-3,0 meter. Bagian bawah lantai merupakan kolong terbuka karena tidak diberi dinding. bagian alas merupakan bagian ruang rumah. yang terbagi kepada tiga ruangan yaitu: scrambi depan (seuramoe keue). serambi tengah (tungai atau rumoh inoeng). dan serambi bclakang (seuramoe likoet). Atap Rumoh Aceh adalah atap yang berabung (tampoeng) satu yang memanjang dan samping kiri ke samping kanan. scdangkan cucuran atapnya berada di bagian depan dan bagian belakang rumah. (Hadjat, 1981:1).
Setelah Islam datang dan berkembang dengan pesat maka rumah orang Aceh mengalami perubahan baik dan segi bentuk. letak dan fungsinva. Semua ini didasarkan kepada ciri-ciri dan ajaran Islam yang dianutnya. Perkembangan Islam rnencapai puncak keemasannva pada masa pemerintah Sultan Iskandar Muda yang membawa pengaruh nyata terhadap perkembangan politik. budaya dan lain-lain. ini terlihat dan berbagai motif ukiran yang rncnghiasi Rumoh Aceh. Karena itulah bila diperhatikan dengan seksama. Rumoh Aceh banyak mengandung nilai-nilai keagamaan yang tcrcermin dalam bentuk cara dan letak bangunan. maupun ukiran yang terdapat di dalamnya.
2.2 Arsitektur Rumoh Aceh
Adat istiadat atau kebiasaan suatu masyarakat selalu dipengaruhi olch situasi dan kondis geografi serta religi dimana masyarakat itu tinggal. Begitu juga mengenai letak denah Rumoh Aceh yang biasanya dibangun berhadapan ke timur dan ke barat. ternyata banyak dipengaruhi oleh faktor-fàktor geogratis dan sistem religi masyarakat Aceh. Angin di daerah Aceh umumnya bertiup dari arah timur ke barat atau sebaliknya. Bahkan angin yang paling kencang bertiup di daerah Aceh disebut angin barat. Angin
ini sering menghancurkan dan memporak-porandakan bukan hanya tanaman kecil seperti padi, tembakau dan sayur-sayuran. Akan tetapi lebih dari itu angin barat ini sering juga menumbangkan pohon-pohon besar, bahkan menghancurkan rumah-rumah penduduk. Karena dengan adanya konstruksi denah rumah yang memanjang dan timur ke barat seperti itu dapat membantu keutuhan serta daya tahan rumah dan hempasan angin kencang (Syamsuddin, 1971: 229).
Selain itu, penempatan posisi denah Rumoh Aceh yang membujur dan Timur ke Barat ternyata juga dipengaruhi oleh sistem religi. Keberadaan agama Islam sejak awa perkembangan di Aceh telah banyak mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat Aceh, baik dalam bidang fisik, maupun psikologis. Karenanya adalah wajar apabila letak denah Rumoh Aceh sebagai bahan dari hasil budaya masyarakat Aceh juga dipengaruhi oleh unsur-unsur Islam. Dengan adanya penempatan letak denah Rumoh Aceh yang membujur dari timur ke barat seperti itu dapat membantu untuk menentukan arah kiblat shalat yang tepat dalam rumah, baik untuk sipemilik rumah itu sendiri maupun dari tamu yang datang dari luar Aceh.
Bentuk konstruksi bangunan rumah adat antar satu daerah lainnya selalu berbeda. Perbedaan itu disebabkan faktor-faktor geografis dimana masyarakat itu tinggal. Masyarakat provinsi Naggroe Aceh Darussalam terdiri dari berbagai suku bangsa, yaitu: suku Aceh asli. suku Tamiang. Gayo. Gayo Lues dan Kluet. Kebudayaan antara satu dengan yang lainnya mempunya masing-masing ciri khas yang berbeda. Perbedaan itu mencakup juga tentang bentuk konstruksi rumah adat yang terdapat di daerah tersebut. Akan tetapi perbedaan itu tidaklah terlalu mencolok, karena meskipun masyarakat terdiri dan berbagai suku bangsa, namun mereka telah dinyatakan oleh suatu pola ikatan sosial keagamaan (Talsya, 1994: 102).
Umumnya Rumoh Aceh dibangun di alas tiang-tiang 2,5 sampai 3 meter dan tanah. Rumoh Aceh rata-rata memiliki 3 ruang induk, yaitu ruang depan, ruang tengah dan ruang bagian belakang. Rumoh Aceh rata-rata dalam ukuran besar, sebelah bertungsi sebagai tempat tinggal, Rumoh Aceh  juga bertungsi sebagai tempat kegiatan-kegiatan sosial. seperti: musyarawah, kenduri, peresmian pernikahan, khitanan, dan lain-lain sebagainya. Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, Rumoh Aceh dibangun tinggi di atas tiang-tiang sehingga antara tanah ke lantai rata-rata mencapai mencapai 2 sampai 3 meter. Kegunaan rumah tradisional dibuat tinggi karena zaman itu penduduknya masih jarang, sedangkan lingkungannya masih berhutan dan banyak binatang buas, seperti harimau, beruang, ular dan sebagainya. Jadi dengan konstruksi rumah yang tinggi itu diharapkan penghuninya dapat terlindung dan berbagai gangguan binatang buas.
Selain itu, ruangan antara tanah dan lantai rumah juga berfungsi untuk sarana penyimpanan berbagal alat pertanian, seperti cangkul, arit dan sebagainya. Bahkan nuangan di bawah lantai itu sering juga dimanfaatkan oleh para pemuda-pemudi untuk tempat santai dan istirahat. Lantai Rumoh Aceh dibuat dari pohon nibung atau bambu yang dibelah kecil-kecil biasanya disusun tidak rapat. Ada juga lantai Rumoh Aceh terbuat dari papan. Jarak celah antara sebelah pohon nibung (bambu) dengan lainnya mencapai 1 cm. Pada Iantai itu berfungsi untuk mempermudah pembuangan kotoran pada waktu menyapu sehingga rumah selalu kelihatan bersih dan kotoran dan debu. Struktur atap Rumoli Aceh memiliki ciri khas tersendiri. Lembaran atap yang telah diproses dan daun rumbia (on meuria) disusun dan diikat mulai dan bawah sebelah kiri sampai ke kanan atas. Atap disusun sangat rapat, di mana jarak antara tulang daun berikatannya rata-rata hanya 1,5 sampai 2 cm, sehingga atap rumah adat tradisional Aceh kelihatannya sangat tebal. Susunan atap diikat dengan rotan panjang yang dibelah empat atau delapan mulai dan lembaran atap paling bawah sampai ke atas tanpa terpisah. Hal ini bertujuan untuk mempermudah cara penyelamatan rumah dan bencana kebakaran, sebab apabila terjadi kebakaran cukup hanya dengan menurunkan ikatan di atas secara keseluruhan atap akan terseret jatuh ke bawah.
Selain itu, karena Rumoh Aceh dibangun tinggi dan atas tanah, maka rumah itu harus memiliki tangga. Tangga yang terdapat pada setiap Rumoh Aceh memiliki jumlah anak tangga ganjil yaitu antara 7 sampal 9 buah anak tangga. Ketentuan jumlah anak mi berdasarkan kepercayaan orang Aceh bahwa setiap jumlah hitungan selalu ada hubungan dan pengaruhnya dengan ketentuan langkah, rezeki, pertemuan dan maut. Jadi jika anak tangga dibuat ganjil antara 7 sampai 9, maka anak tangga yang terakhir jatuh pada hitungan pertemuan dan langkah Ini menurut orang Aceh sangat berpengaruh dan menguntungkan dalam kehidupan. Sebaliknya apabila anak tangga dibuat delapan, akan berakhir pada maut. Hal ini yang tidak dikehendaki karena menurut kepercayaan orang Aceh apabila jumlah anak tangga berakhir pada maut, maka penghuninya atau tamu yang memiliki anak tangga rumah itu akan selalu mendapat kecelakaan.
Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, banyak tiang Rumoh Aceh rata-rata bcrjumlah 16. 20. 24 dan ada yang sampai 28 buah tiang dan lebih. tergantung pada besar dan kecilnya rumah itu dibuat. Di antara sekian banyak jurnlah tiang itu, terdapat 20 buah tiang utama yang dinamakan “Tiang Raja” atau “Tameh Raja’ dan “Tiang Putri” atau “Tameh Putroe”. Bentuk tiang-tiang itu ada yang bulat empat persegi dan ada pula yang delapan persegi. Tameh Raja din Tameh Putroe biasanya berukuran dua kali lipat lebih besar daripada tiang-tiang yang lainnya, yaitu dengan ukuran garis tengah sebesar 60 cm. Sedangkan tiang yang lainnya hanya berukuran garis tengah sebesar 50 cm. Apabila kita menghadap ke depan rumah, maka akan kita dapati hang raja letaknya di tengah sebelah kanan, sedangkan tiang putri di tengah sebelah kiri dan rumah tersebut, jadi Tameh Putroe terletak persis di sebelah kiri Tameh Raja. Peletakan posisi tiang raja dan tiang putri ini dipengaruhi olch prinsip-prinsip ajaran Islam yang mengungkapkan rusuk sebelah kiri kaum adam (pria). Secara lebih jelas mengenai arsitekturnya, dapat dilihat pada lampiran.
Jadi, dengan adanya penempatan letak posisi Tameh Raja disebelah kanan Tameh Putroe diharapkan dapat mempengaruhi suasana keharmonisan hubungan antara suami istri dalam rumah itu. Di samping itu, itu untuk menciptakan keseimbangan bahwa orang tua (ayah dan ibu) merupakan penguasa dan pelindung bagi anggota keluarga yang lain, terutama terhadap anak-anaknya.
Apabila kita menghadap ke depan rumah, maka akan kita dapati tiang raja letaknya di tengah sebelah kanan, sedangkan tiang putri di tengah sebelah kin dan rumah tersebut, jadi Tameh Putroe terletak persis di sebelah kin Tameh Raja. Peletakan posisi tiang raja dan tiang putri mi dipengaruhi oleh pninsipprinsip ajaran islam yang mengungkapkan rusuk sebelah kin kaum adam (pria) (Tammat, 1996: 205).

Bantalan tiang dipasang pada posisi membujur dan melintang. Bantalan yang membujur disebut “Toi”, sedangkan bantalan yang melintang disebut “Roek”. Kedua ujung bantalan yang membujur dipahat setengah sehingga seperduanya tinggal sebagai puting. Begitu juga dengan kedua bantalan yang melrntang dipahat dengan ukuran sama seperti bantalan yang membujur. Kayu bantalan yang melintang dipasang di bawah bantalah yang membujur dan biasanya diperkuat dengan menggunakan pasak (bajoe), sehingga rumah itu dapat berdiri dengan kokoh dan kuat. Di atas bantalan yang melintang dipasang lagi bantalan lantai yang disebut “Lhue’. Lhue ini mempunyai jumlah tertentu pada setiap Rumoh Aceh dan selalu harus dalam jumlah ganjiL rada ruang depan sebanyak 9 huah, pada ruang tengah 2 buah, ruang belakang sebanyak 9 buah, jumlah seluruhnya sebanyak 29 buah.
Ketentuan jumlah “Lhue” ini ternyata dipengaruhi juga oleh kepercayaan terhadap adanya ketentuan langkah, rezeki, pertemuan dan maut. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya pada masalah tangga. Di atas “Lhue” baru dipasang lantai yang dibuat dan pohon nibung (pinang) atau dan bambu yang diikat dengan ijuk yang dipental rapi. Pada sekeliling rumah terdapat dua keping papan yang berukuran tebal dan lebar yang berfungsi untuk menempati ruk, 101, dan ihue. Papan yang paling bawah disebut “larak” dan diatasnya disebut “kindang”. Diatas tiang dipasang bara setebal 15 cm dan lebar 30 cm, dan tulang hubungan sampai ke atas bara diletakkan kasau yang dinamakan “gase”. Dibawah kasau terdapat kayu bulat sejajar dengan “bara” yang dinamakan “nutong”. Fungsi geunulong mi untuk mengikat kasau agar menjadi sejajar dan rapi. Path ujung kasau bagian bawah terdapat less palang dipasang miring kedalam yang dinamakan “neuduk gase”. Sedangkan pada ujung sebelah barat dan timur rumah bagian atas (bubong) juga terdapat less palang yang berfungsi sebagai penahan atas dan terpaan angin yang dinamakan “Penimpi”. (dapat dilihat pada lampiran).
Dan “neuduk gase’ sampat ke puncak bubungan yaitu diantara selang-selang kasau itu terbentang tali ijuk yang disebul “talo bawah”. Tali ini berlipat dua dan kedua ujung seselah bawah disatukan dan disimpul dengan sangat kuatnya, sehingga bentuknya persis seperti sebuah sanggul yang dinamakan “bruok geuttieun”. Pada tali ijuk inilah diikat atap rumah tersebut. Sehingga apabila terjadi bencana kebakaran, maka simpul ijuk yang berbentuk sanggul sejumlah yang dipotong. Sebab dengan pemotongan sanggul ijuk itu atap akan turun dan jatuh ke bawah secara serentak. Pada ujung timur dan barat sejajar dengan kuda-kuda terdapat sebuah penutup yang biasanya dilubangi yang dinamakan “tulak angin” atau (tolak angin). lolak angin mi berti.ingsi untuk menetralisir hempasan angin kencang. Selanjutnya dan ujung bawah kucuran atap (neduk gase) sampai ke bara dibuat bagasi yang bertungsi untuk menyimpan dan meletakkan barang-barang seperti tikar dan bantal yang dinamakan “sandingan”.
Jendeta Rumoh Aceh umumnya dibuat pada dinding sebelah barat dan timur. Jendela mi merupakanjendela utama dan rumah itu, artinya jendela ini berfungsi untuk menyambut udara bersih dan sinar matahari pagi ke dalam rumah. Sedangkan jendela yang dibuat pada dinding bagian utara dan selatan hanya berfungsi untuk menerangi bagian dalam keseluruhan rumah termasuk ruang tengah. Sedangkan pintu utama (pintu depan) pada setiap Rumoh Aceh hanya terdapat pada dinding kedua dan rumah itu, yaitu pada dinding tengah yang dinamakan “Pinto Aceh”. ‘tangga rumah tradisional Aceh menghadap ke selatan dan utara. Mengenai jumlah anak tangga ini telah diuraikan pada bagian terdahulu dan bab ini. tangga ini letaknya terlindung dan sinar matahari dan hujan karena kalau cucuran atap yang sejajar dengan tangga dan hujan dan sinar matahari yang dapat mengakibatkan lapuk dan rusak. Atap pelindung tangga ini dipotong dengan dua buah dua buah tiang berbentuk segi empat (Zainuddin. 1961:35).

1. Bahagian Bawah
Bahagian ini berbentuk kolong yang berada di bawah Iantai. Pada kolong didapati beberapa deretan tiang-tiang rumah yang sejajar dan timur ke barat, yang terdini dan empat buab deretan, yaitu deretan depan (banja keu), deretan tengah depan (banja teungoh likoet) dan deretan belakang (banjo likoel). Di a9tara deretan tengah depan dan deretan tengah belakang terdapat tiang raja dan tiang putri. Jarak antara satu tiang dengan tiang yang lain selalu sama yaitu sekitar 2,5 meter. Rurnoh Ace/i merupakan komponen-komponen penting dan unsur fisik yang mencerminkan kesatuan sakral dan kesatuan sosiaL mi berarti menunjukkan bahwa bidang arsitektur telah lama berkembang di Aceh.
Rumoh Aceh dibangun di atas sejumlah tiang-tiang lurus yang membujur dan arab timur ke barat, yang terdini dan tiga, lima, tujuh, sembilan ruangan. Adapun rumah yang didinikan itu selalu ganjil tidak ada rumah yang ruangannya genap, tapi rumah yang dibuat Iebih banyak tiga dan lima ruangan, letak yang membujur dan timur ke barat dimaksudkant untuk memudahkan mengenal kiblat waktu shalat, dan menghindani terpaan angin dan samping yang dapat merusak atap rumah. (Husein., 1970: 47).

2. Bahagian Atas
Bahagian ini merupakan ruangan yang keseluruhannya terbentuk bujur sangkar, yaitu terbagi atas tiga ruangan antara lain:

1)     Ruangan depan atau serambi muka (seuramoe keu) atau (seuramoe reunyeun)
Ruangan ini berbentuk polos, artinya pada ruangan ini tidak dibuat lagi dinding penyekat atau pemisah menjadi bilik-bilik yang lebih kecil. Pintu juga dibangun pada Bahagian mi yang ukuran luasnya sekitar 0,8 meter dan tingginya 1.8 meter. Pada sisi dinding depan sebelah kir dan kanan pintu dibuat jendela (tingkap). Biasanya hanya rumah yang berdinding papan yang mempunyai jendela. Dengan demikan berarti serambi depan bersifat terbuka sampai pula dengan fungsinya yang antara lain tempat menerima tamu laki-laki, tempat mengaji dan belajar anak laki-laki, yang sekaligus menjadi tempat tidur mereka dan kepentingan yang umum. (Samingoen, 1984: 35).

2)     Ruangan tengah (tungai)
Ruangan ini terletak antara serambi depan dan serambi belakang. Ruangan ini (jure) terletak antara serambi muka dan serambi belakang, yang tingginya 0,5 meter dan serambi depan dan serambi belakang. Di ruangan ini pula dibangun dua buah bilik sebagai tempat tidur. Kedua kamar ini masing-masing terletak di sebelah kanan atau kiri (timur atau barat) ruangan tengah (jute) antar bilik kamar ini dipisahkan oleh gang (rambat) yang berfungsi sebagai jalan antara serambi depan dan serambi belakang. Kamar sebelah barat (rumoeh inoeng) ditempati oleh kepala keluarga, dan di sebelah timur (rumoeh anjoeng) ditempati oleh anak perempuan, jika anak perempuan lebih satu orang, maka kepala keluarga terpaksa pindah ke belakang bahagian barat, bila tidak mampu membuat rumah yang terpisah. Lantai kamar terbuat dari bambu atau papan dan mudah untuk di buka bila sewaktu-waktu dipergunakan untuk memandikan anggota keluarga yang meninggal. Dengan demikian ruangan ini bersifat tertutup sesuai dengan fungsinya yaitu untuk tempat tidur (Sulaiman. 1998: 205).


3) Ruangan belakang (seramoe likoet)
Sebagaimana halnya dengan ruangan depan maka ruangan belakang ini tidak dibagi lagi menjadi ruangan yang lebih kecil. Ada juga yang membangun ruangan ini sedikit Lebih besar dan pada scrambi depan dengan cara mcnambahkan dua buah yang pada bahagian timurnya. Ruang tamhahan ini sering disebut anjoeng atau ulee keude yang sekaligus berfungsi sebagai dapur. yang terletak di scbelah Timur dariseramoe likoet. Di atas dinding dcpan di bawah bara bahagian luar biasanya atau perkakas dapur. yang disebut sanding (sandcng). Terkadang masih ada penambahan terhadap ruang belakang ini yaitu dengan cara memasang balok toi yang ujung bahagian bclakangnya lebih panjang 1.5 cm dan pada ukuran hiasa. balok ini mcnghubungkan tiang deretan tcngah bclakang dengan tiang deretan belakang, bahagian yang ditambah ini disebut tiphik. kcgunaannya scbagai tempat menyimpan kayu api. guci tempat air.

3. Bahagian Atap/Kap
Kebanyakan atap rumah adalah atap yang berabung (du/tampong) satu. terletak dibagian atas ruangan lengah yang memanjang dan samping kiri ke kanan, sedangkan cucuran atasnya bcrada diBahagian depan dan bclakang rumah. Berabung rumah atau tampong berada dibahagian atas serambi tengah, terdapat juga para (loteng) yang bcrfungsi sebagai tempat untuk menyimpan barang-barang yang diperlukan. Atap Rumoh Aceh biasanya dibuat dan daun rumbia (oen meuria) yang disemat dengan rotan yang telah dibelah kecil-kecil. Tulang atap terbuat dari batang pinang atau bambu yang dibelah, kemudian daun rumbia tadi dijahitkan pada belah bamboo atau pinang. Tapi ada juga digunakan ijok atau ijuk yang dipintal atap tersebut tersusun rapat sehingga susunannya menjadi sangat tebal dan rapi.

2.3 Ciri-ciri Khas Rumoh Aceh
Sesudah agama Islam masuk dan berkembang dengan pesat sehingga seluruh rakyat Aceh memeluknya, maka hampir semua aspek kehidupan kebudayaan dipengaruhinya menyebabkan terkikisnya pengaruh kebudayaan yang telah ada. Sebagai mana lazimnya bangsa lain. Bangsa Aceh juga mempunyai seni yang mempunyai ciriciri tersendiri yang tercermin dalam bentuk arsitektur rumah kediaman, yaitu Rumoh Aceh. Rumoh Aceh dibangun di atas tiang-tiang kayu yang tinggi hal ini erat kaitanya dengan masalah keamanan yaitu memberikan rasa aman kepada penghuninya dan gangguan binatang buas, pencurian, banjir dan sebagainya karena waktu itu penduduknya masih kurang. Letaknya membujur dan arah Timur ke Barat atau rumah menghadap ke Utara dan ke Selatan yang berguna untuk menentukan arah kiblat. Selain dan pada itujuga berkaitan erat dengan masalah bertiupnya angIn di daerah Aceh yang bertiup dan arah ‘Timur ke Barat, sehinggajika letak bangunan menghadap kearah angin bertiup maka bangunan akan mudah roboh. Letak yang demikian juga untuk memudahkan masuknya sinar matahari pagi dan sore ke dalam ruangan, sehingga peredaran udara di dalam ruangan senantiasa cukup serta sehat.
Bentuknya yang memanjang dengan ruangan yang tidak sama tingginya, di mana bagian tengah lebih tinggi dan pada bagian depan dan belakang. ini mengandung beberapa makna yang terdapat di dalamnya. Dengan terdapatnya beberapa ruangan ini mempunyai fungsi yang berlainan, sesuai dengan ajaran Islam dan tatacara kehidupan masyarakat Aceh. Letak tangga dan pintu rumah selalu terdapat pada dinding serambi depan, ini menandakan kepribadian suku Aceh yang beradat. yaitu tidak suka menonjolkan atau menganggukan din pribadi. Sikap seperti ini tercermin pada pintu masuk rumah etak pintu dengan ukuran yang sempit dan rendah. sehingga orang masuk dan keluar selalu menunduk dan sujud.
Berdasarkan keadaan ciri-ciri Rumoh Aceh yang disebutkan diatas maka tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Rurnoh Aceh mempunyai beberapa keistimewaan yang antara lain:
1)        Bangunan Rumoh Aceh tidak menggunakan paku, melainkan menggunakan pasak kayu yang dibuat sedemikian rupa yang disebut babe.
2)        Rumoh Aceh ml dapat dengan mudah dibongkar kaiau mau dipindahkan dan dipasang kembali tanpa mengakibatkan eacat atau rusak.
3)        Mudah diselamatkan dan bahaya kebakaran, karena atap rumah dapat diturunkan dalam waktu yang singkat sehingga kerugian yang diderita tidak begitu besar.
4)        Karena Rurnoh Aceh dibangun di atas tiang-tiang yang tinggi maka dapat digesergeser tempatnya.
Bukti lain dari pada itu adanya ukiran disetiap bahagian Rumoh Aceh. Kebanyakan ukiran mi dipengaruhi oleh ajaran islam seperti bentuk tulisan kaligrafi yang mencerminkan nilai agama, sehingga sangat berpengaruh terhadap kehidupan yang memberikan kegairahan dan inspirasi Islam dalam gerak atau aktivitas penghuninya.
Ada beberapa pendapat lain yang mengungkapkan tentang keistimewaan dan ciri-ciri Rumoh Aceh yang antara lain Rumoh Aceh terdiri dan:
1)       Seuramoe keue (serambi muka) yang bertüngsi tempat menerima tamu laki-laki sekaligus menjadi tempat tidur dan tempat makan mereka.
2)       Seuramoe likoet (serambi belakang) yang berfungsi tempat menerima tamu wanita dan sekaligus menjadi tempat tidur atau makan mereka.
3)       Rumoeh inoeng (rumah induk) antara seuramoe keue dengan seuramoe inoeng dibagi dua jure (kamar tidur) yang antara kedua dibatasi oleh rambai (gang) yang menghubungkan antara scrambi muka dengan serambi belakang.
4)       Rumoeh dapu (kamar dapur) yang terletak berkaitan dengan serambi belakang dan agak rendah sedikit.
5)       Seulasa (teras muka) kalau istilah sekarang yang terletak di depan serambi muka dan bertautan tapi agak rendah sedikit.
6)       Kroong pade (lumbung padi) yang berdiri terasing dan rumah, tapi masih dalam pekarangan tempatnya di depan atau disamping atau di belakang.
7)       Keupaleh (pintu gerbang yang ada dibilik kecil diatasnya), yang ada keupaleh ini biasanya di rumah orang-orang besar, orang-orang kaya dan kepala kampung.
Selain dan pada yang disebut di atas, suku Aceh juga memiliki bangunan tradisional yang digunakan sebagai tempat beristirahat pada waktu senggang. Bangunan ini disebut balee (balai). Balee tersebut memiliki fungsi ganda, tidak hanya untuk tempat istirahat, nan’iun juga bertungsi sebagai gudang tempat menyimpan barangbarang tertentu, seperti halnya tikar dan sebagainya.
Pada setiap Rumoh Aceh kadang-kadang terdapatjuga Lialee, balee yang terdapat pada setiap Rumoh Aceh biasanya didirikan berdempetan dcngan Rumoh Aceh, dan kadang-kadang di depan rumab. ‘l’inggi bangunan mi Iebih rendah daripada Rumoh Ace/i dan tidak berdinding. Balee biasanya digunakan oleh kaum Ibu sebagai tempat dudukduduk pada waktu-waktu senggang. Selain itu dipergunakan juga sebagai tempat
Menerima tamu yang dekat. Selain untuk tamu dekat juga berfungsi sebagai tempat menerima tamu yang jauh buat sementara Hasjmy, 1990:283).

2.4 Bahan Rumoh Aceh dan Cara Mengolahnya
a) Bahan yang digunakan untuk membuat Rumoh Aceh
Bahan untuk membuat rumah tradisional Aceh (Rumoh Aceh), terdiri dan berbagai jenis kayu itu biasanya dipilih yang berkualitas dan keras. Kayu-kayu itu biasanya dipiplih yang mempunyai serat halus dan telah cukup tua agar tidak mudah agar tidak mudah dimakan rayap, sehingga tahan sampal berpuluhan bahkan beratusratus tahun. Kayu-kayu tersebut umumnya dipilih yang berukuran panjang lurus dan besar, terutama bahan pembuatan tiang, bara dan dinding rumah. Lantai ruinah biasanya
Dibuat dari sejenis pohon pinang (pohon nibung) yang telah berumur cukup tua atau dari pohon bambu yang tua. Sedangkan atasnva terdiri dan daun rumbia (on meuria) atau daun kelapa yang dijahit tersusun pada sebelah bambu tipis sepanjang kwa-kira 2 meter.

b) Cara mengolah dan membuat bahan Rumoh Aceh
Pengolahan dan pembuatan tiang, dinding dan bara serta lantai Rumoh Aceh biasanya dikerjakan di datam hutan dimana bahan-bahan tersebut ambil. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pengangkutannya. Tiang, dinding dan bara Rumoh Aceh, biasanya dibuat dengan cara menarah dan menggergaji kayu-kayu bulat, di mana besar dan panjangnya sesuai dengan bentuk yang kita inginkan. Tiang dibuat dengan cara “menarah” kayu yang masih bulat menjadi empat persegi atau clelapan persegi. Panjangnya sesuai dengan tinggi rumah yang akan dibuat. Jadi untuk membuat tiang diambil persms di bagian tengah dart kayu yang masth utuh. Besar tiang rata-rata mencapai 35 cm lingkaran atau lebih. Jumlah tiang pada tiap-tiap Rumoh Aceh bermacam-macam, ada yang 16, 20, 24, 2 dan seterusnya sesuai banyaknya ruang lebar dan panjang rumah tersebut.
Sedangkan bara (alas kasau) dibuat dengan cara membelah kayu menjadi 4 bagian. Pembelahan ml dilakukan persis path bagian garis tengab clan kayu ini. Setiap bagian ditarah hingga terbelatinya tinggal 5 sampai 6 cm dan lebarnya antara 12 sampai 15 cm. Jadi bentuk bara persis menjadi empat persegi panjang seperti sekeping, papan terbelah. Lantai Rumoh Aceh umumnya terbuat dan sejenis pohon pinang (p0/ion nibung) atau sering juga dibuat dan bambu yang sudah cukup tua. Pohon nibung atau pohon bambu dibelah kecil-kecit selebar dua anakjari. Selanjutnya direndam ke dalam air sampai dua atau tiga minggu, barn kemudian dijemur sampai kering betul. Proses perendaman ini bertujuan agar pohon nibung dan bamboo tersebut menjadi lebih kuat dan tahan sampai berpuluh bahkan beratus tahun serta tidak mudah dimakan rayap.
Atap Rumoh Aceh umurnnya terbuat dan daun rumbia (on meuria) adajuga yang menggunakan daun kelapa. Cara rnengolahnya mula-mula daun mi dipilih yang sudah tua dan lebar. Selanjutnya disusun pacla sebelah bambu tipis yang telah disediakan sebelumnya dengan ukuran panjang bambu kira-kira 2 sampal 2,25 cm. Susunan daun rumbia (on meuria) dikerjakan dengan cara melipat dan pada bambu itu, sehingga bambu itu persis berada didaiani lipatan setiap daun rumbia (on ineuria) yang berfungsi sebagai tulang dan amp itu secara keseluruhan. L)aun-daun itu disusun secara beraturan dengan bagian belakang daun hams selalu berada diluar. Tujuannya agar amp tidak bocor pada saat turun hujan. Susunan daun-daun rumbia itu dijahit (diikat) dengan rotan yang dibeiah delapan. Sehingga antara daun rumbia (on meuria) yang satu dengan yang Iainnya saling menyatu dengan kuat pada bambu tersebut.
Untuk pembuatan papan dinding rumah sama dengan cara membuat bara, hanya saja dalam pembuatan papan mi. Kayu dibelah agar tipis. Setiap bagian ditarah setebal 3 cm s/d 5 cm, lebarnya sebagaimana papan kayu yang dibe!ah tadi. Akan tetapi ukuran standar tebar pada rumab tradisional Aceh biasanya rata-rata mencapai 22 cm atau Lebih.

2.5 Pembagian dan Fungsi Ruangan Rumoh Aceh
Jumlah ruangan Rumoh Aceh bermacam-macam, tergantung pada daerah di mana mmah itu terdapat. Rumoh Aceh biasanya hanya menilliki tiga buah ruangan. Yaitu ruangan depan yang disebut dengan “seuramo keu” atau “seuramo riyeun” dan sering Juga dinamakan “seuramoe agam”. Ruangan yang kedu a’a1ah ruang tengah yang disebut dengan tungai atau sering juga dinamakan juree. Sedangkan ruangan yang ketiga terdapat pada bagiai paling belakang dan rumah tersebut. Ruang paling belakang mi disebut “seuramoe likoi” atau “seuramoe inong.

1) Ruang Depan
Ruangan mi berberituk sebuah ruangan yang polos, artinya tidak lagi dibagi ke dalam heberapa bilik kecil. Pada bagian depan terdapat pintu masuk (pintu utama) yang dinamakan “Pinto Aceh”. Ukuran pintu pada setiap rumah jenis mi rata-rata berkisar antara 0,80 sampal I meter lebar dan tingginya antara 1,80 sampai 2 meter. Ada juga yang membuat pintu utama mi disebelah kanan ruang depan. Sedangkan jendela (tingkap) terdapat pada dmnding bagian depan. Lebar jendela 0,60 meter dan tingginya I meter. Di atas dmnding mni dibuat tidak segi empat rnenyimpan barang-barang yang dinamakan “sanding”. dinding mi letaknya di atas dinding depan, persis di bawah hara bagian luar.
Ruangan depan atau “seuramoe keu” mi berlungsi sebagai ruang tamu, tempat belajar, mengaji, tempat acara kenduri, tempat acara perkawinan, tempat menyulam dan menganyam tikar. Selain itu ruangan depan mm bertüngs sebagam tempat tidur anak lakilaki yang telah berumur 8 tahun ke atas. Karena fungsi yang terakhir inilah maka ruangan mi dmnamakan “seurarnoe agam” (Hajad Abdul, 1981: 72).

2) Ruang Tengah
Ruang tengah mi sifatnya tertutup dan diruang inilah dibuat kamar-kamar tempat tidur karenanya ruangan mi dinamakan “juree”. Kamar-kamar tersebut biasanya dibagian ujung sebelah timur dan barat dan ruang tengah mi. Ditengah-tengah antara kamar sebelah timur dan barat terdapat lorong (gang) yang bertüngsi sebaga’ jalim lewat menuju seuramo depan dan belakang. Lorong ini dinamakan “Rambat”. Masing-masing kamar pada ruangan tangga mi mempunyai jendcJa tersendiri. ukurannya sama dengan ukuran jendela yang terdapat pada ruang depan, yaltu 0,60 x 1 meter. linlu karnar biasanya rnenghadap kebagian serambi depan dan ada juga yang membuat pintu mengbadap ke Jorong yang dinamakan rambal tadi. Kamar yang pintunya tidak menghadap ke serambi depan biasanya dinding bagian muka mi bisa dibuka ‘/2 dan lantai ke atasjika diperlukan.
Kamar yang terletak disebelah barat ditempati oleh kepala keluarga, karenanya kamar tersebut clinamakan “Rumoh Inong”. Sedangkan kamar disebelah timur ditempati oleh anak perempuan karenanya kamar tersebut dinamakan “Rumoh Anjong”. Apabila salah seorang anak perempuan bat-u dikawrnkan, maka kedua mempelai flu menempati Rurnoh Inong dan kepala keluarga pindah ke rumah Anjong yang ditempati anak perempuan tadi. Sedangkan anak perempuan itu pindah kesebelah bat-at ruangan belakang. Apabila ada dua orang anak perempuan yang telah kawin, sedangkan orang tua si anak belum mampu membuat rumah lain, maka kamar sebelah barat(Rumoh inong) ditempati oleh anak perempuan tertua, dan anak perempuan yang Iebih muda menempati kamar sebelah timur (Rumoh Anjong). Sedangkan kepala keluarga pindah kesebelah barat ruang belakang yang ditempati anak-anak perempuan tadi dan mereka kesebelah timur ruangan belakang (Hasjmy, 990:16).
Akan tetapi hal seperti ml jarang sekali terjadi Iebih-lebih di daerah Aceh Besar yang menurut ketentuan adatnya apabila salah seorang anak perempuan menikafi, maka untuk anak mi hat-us disediakan sebuah rumah tersendiri. Seandainya orang tua kurang mampu, maka kepada anak itu diserahkan sekurang-kurangnya 1/3 rumah-rumah itu mulai dari Seuramo keu sampai ke belakang. Persoalan yang terakhir inilah yang menyebutkan bangunan Rumoh Aceh selalu berukuran besar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar