Jumat, 23 Desember 2011

Qira'at dan sejarahnya


PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Alquran dalam bentuknya yang kita kenal sekaranf sebetulnya adalah sebuah inovasi yang usianya tak lebih dari 79 tahun. Usia ini didasarkan pada upaya pertama kali kitab suci ini dicetak dengan percetakan modern dan menggunakan stabdar Edisi Mesir pada tahun 1924. Sebelumnya Alquran ditulis dalam beragam bentuk tulisan tangan (rasm) dengan teknik penandaan bacaan (diacritical marks) dan otografis yang bervariasi. Hadirnya mesin cetak dan tehnik penandaan buka saja membuat Alquran menjadi lebih mudah dibaca dan dipelajari, tapi juga telah membukakan beragam versi Alquran yang sebelumnya beredar menjadi satu standar bacaan resmi seperti yang kita kenal sekarang.
Pencetakan Edisi Mesir itu bukanlah  yang pertama kali dalam upaya standarisasi versi-versi Alquran. Sebelumnya, para khalifah dan penguasa Muslim juga turun tangan melakukan hal yang sama, kerap didorong oleh keinginan untuk menyelesaikan konflik-konflik bacaan yang muncul akibat beragamanya versi Alquran yang beredar. Tapi percetakan tahun 1924 itu adalah ikhtiyar yang luar biasa, karena upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam sejarah kodifikasi dan pembekuan Alquran sepanjang masa. Terbukti kemudian, Alquran Edisi Mesir itu merupakan versi Alquran yang paling banyak beredar dan digunakan oleh kaum Muslim.

B.     Rumusan Masalah
Edisi Mesir adalah salah satu dari ratusan bacaan Alquran (qiraat) yang beredar sepanjang sejarah perkembangan kitab suci ini. Edisi itu sendiri merupakan satu versi dari tiga versi bacaan yang bertahan hingga zaman modern. Yakni masing-masing, versi Warsh dan Nafi yang banyak beredar di Madinah, versi Hafs dari Asim yang banyak beredar di Kufah, dan versi Al-Duri dari bAbu Amr yang banyak beredar di Basrah. Edisi Mesir adalah edisi yang menggunakan versi Hafs dari Asim. Versi bacaan (qiraat) adalah satu jenis pembacaan Alquran. Versi ini muncul pada awal-awal sejarah Islam (Abad pertama hingga ketiga) akibat dari beragamnya cara membaca dan memahami mushaf yang beredar pada masa itu.

C.    Tujuan Penulisan
Tulisan ini ingin menyajikan gambaran tentang ragam-ragam Qira’at  Al – Qur’an yang berkembang pada awal-awal Islam dan ingin mengetengahkan bahwa sesungguhnya beragam Varian Qira’ah Al – Qur’an telah eksis dari dulu.
 
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Qira’at dan Sejarahnya
Al –Qira’at adalah jamak dari kata qira’at yang berasal dari qara’a–yaqra’u–qirâ’atan. Menutur istilah qira’at ialah salah satu aliran dalam mengucapkan Al–Qur’an yang dipakai oleh salah seorang imam qura’ yang berbeda dengan lainnya dalam ucapan  Al–Qur’anul Karim. Qira’at ini berdasarkan sanad-sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW.
Diantara sahabat yang popular dengan bacaannya adalah : Ubay, Aly, Zaid ibnu Tsabit, Ibnu Mas’ud. Abu Musal Al – Asy’ary dan lain-lain.
Dari mereka itulahkebanyakan para sahabat dan tabi’in di seluruh daerah belajar. Mereka itu semuanya berpedoman kepada Rasulullah SAW sampai dengan datangnya masa tabi’in pada permulaan abad ke – 2 H. Selanjutnya timbul golongan-golongan yang begitu memperhatikan adanya tanda baca secara sempurna manakala diperlukan dan mereka menjadikannya sebagai satu cabang dari ilmu sebagaimana halnya ilmu-ilmu syari’at yang lain.
Periodesasi  qurra’ dimulai sejak zaman sahabat sampai dengan masa tabi’in. orang-orang yang menguasai tentang Al-qur’an ialah yang menerimanya dari orang-orang yang dipercaya dan dari imam demi imam yang akhirnya berasal dari Nabi.
Sedangkan mushhaf-mushhaf tersebut tidaklah bertitik dan berbaris, dan bentuk kalimat di dalamnya mempunyai beberapa kemungkinan berbagai bacaan. Tidaklah diragukan lagi bahwa penguasaan tentang riwayat dan penerimaan adalah merupakan pedoman dasar dalam bab Qira’at dan Al – Qur’an.
Kalangan sahabat sendiri dalam pengambilannya dari Rasul berbeda-beda. Ada yang membaca dengan satu huruf sedangkan yang lain ada yang mengambilnya dua huruf/bacaan. Dan bahkan yang lain lagi ada yang lebih dulu dari itu. Kemudian mereka bertebaran keseluruh penjuru daerah dalam keadaan semacam ini.

B.     Saba’at Ahruf
1.      Dali-Dali
Alqur’an diturunkan dengan tujuh huruf telah disampaikan dalam sejumlah hadis Nabi yang jumlahnya mencapai tingkat mutawâtir. Menurut Zulfidar Akaha, para sahabat yang meriwayatkan tentang hal ini mencapai 21 orang sahabat. Ada beberapa nash hadis yang menyebutkan tentang diturunkannya Alqur’an dengan tujuh huruf diantaranya :
a.     Hadis yang dikeluarkan oleh Bukhari, Muslim dan yang lainnya dari Ibnu’Abbas ra bahwa Nabi bersabda :
 b.     Hadis yang diriwayatkan oleh bukhari, Muslim Abu Dawud, Al-Nasa’I, Al-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Jarir dari Umar Ibn Al-Khaththab ra bahwa Nabi bersabda :
 Semua dalil atau hadis yang berkaitan dengan sab’at al-ahruf, menurut al-Zarqani mengindikasikan atau mendiskripsikan beberapa hal yaitu :
Pertama, bahwa hikmah diturunkannya Alqur’an dengan tujuh huruf adalah untuk mempermudah (al-taysir) seluruh umat Islam khususnyaumat dari bangsa Arab yang menjadi pembaca Alqur’an yang terdiri dari banyak qabilah dengan dialek dan aksen yang berbeda-beda. Kalau diharuskan membaca dengan satu huruf akan membawa kesulitan bagi mereka.
Kedua, jumlah NabiMuhammad meminta tambahan dispensasi (al-taysir)  untuk umatnya adalah enam kali (enam huruf) selain dari huruf yang dibaca Jibril pertama kali, jadi jumlahnya sempurna menjadi tujuh huruf.
Ketiga, orang yang membaca dengan salah satu huruf dari tujuh huruf maka bentuk bacaannya itu adalah benar.
Keempat, seluruh varian bacaan yang muncul dari sab’at ahruf adalah  kalam Allah, tidak ada satupun intervensi manusia di dalamnya.
Kelima, tidak boleh melarang seseorang membaca alqur’an dengan menggunakan salah satu huruf dari sab’at ahruf.
Keenam, para sahabat ra sangat bersemangat membela alqur’an dan gigih memeliharanya serta segera merespon berita peristiwa tentang alqur’an walaupun hanya tentang persoalan mutasyabih (samar) sebagaimana pendapat al-Syuuthi.
Yakni ia memiliki lebih dari satu makna yang saling melengkapi. Menurut Hasanuddin AF, pendapat ulama yang mendekati kebenaran adalah pendapat Al-Razi yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh huruf yang menyangkut aspek keragaman lafazh atau kalimat dalam Alqur’an.
Pendapat ini menurut Hasanuddin AF, menyangkut keragaman bacaan Alqur’an sesuai dengan lahjah atau dialek bahasa Arab yang berkaitan dengan dua hal yaitu keragaman bacaan yang berkenaan substansi lafazh atau kalimat dalam Alqur’an dan keragaman bacaan yang berkenaan deengan lahjah (dialek) dalam cara-cara mengucapkan lafazh-lafazh atau kalimat-kalimat tertentu dalam Alqur’an. Sama  dengan Hasanuddin AF, Al-Zarqani juga memilih pendapat ini (pendapat Al-Razi) sebagai pendapat yang terkuat. Sementara Manna Al-Qaththan memilih pendapat bahwa yang dimaksud  dengan tujuh ahruf adalah tujuh  bahasa Arab namun memiliki makna satu.

DAFTAR PUSTAKA

Abu “Ubaydl al-Qasim bin Salam, Studi Ilmu Alqur’an (seri I), Jakarta, lembaga Bahasa dan Ilmu Alqur’an

Muhammad Abdul Azim Az-Zarqani, Ushul Al-Fiqh, Jakarta_Indunisiyah, Al-Majlis Al_’ala li al-Dakwah al-Islamiyah, 1973.

Badr al-Din al-Zarkasy, al-Burhan fi Ulumul al-Quran.



 Kata Pengantar
 Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan karunianya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah ini dengan waktu yang ditetapkan. Makalah ini berjudul “QIRAA’AT AL-QUR’AN”. Pada mata kuliah Ulumul Qur’an.
Selanjutnya tak lupa pula shalawat berangkai salam penulis panjatkan kepangkuan Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam kebodohan, kealam yang penuh ilmu pengetahuan.
Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, sehingga masih jauh dari kesempurnaan baik dalam pembahasan maupun penyajiannya.
Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar kelak nantinya dapat menyelesaikan tugas yang lebih baik dari sebelumnya. Kiranya makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya….. amin.

Langsa,     Desember  2011
Penulis



i
 
 

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR........................................................................................... i
DAFTAR ISI......................................................................................................... ii

QIRAA’AT AL-QUR’AN..................................................................................... 1

PENDAHULUAN............................................................................................... 12
A.   Latar Belakang Masalah............................................................................... 12
B.    Rumusan Masalah........................................................................................ 12
C.   Tujuan Penulisan.......................................................................................... 13

PEMBAHASAN ................................................................................................. 14
A.     Pengertian Qira’at dan Sejarahnya............................................................. 14
B.      Saba’at Ahruf................................................................................................. 15
1.      Dali-Dali .................................................................................................. 15

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 17


ii
 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar