Jumat, 16 September 2011

Askep Tetanus


1.     Pengertian
Tetanus adalah suatu penyakit akut yang di sebabkan eksotosin yang di produksi oleh Clostridium Tetani dan di tandai dengan adanya kekakuan otot yang menyeluruh sering kali di sertai kejang dan ketidak stabilan otonom .Tetanus dapat mengenai semua golongan umur mulai dari bayi (Tetanus Neonatorum ) sampai orang dewasa. Penyakit ini dapat di cegah tetapi kadang – kadang juga dapat menjadi fatal.

2.     Etiologi
Clostridium Tetani sebuah kuman gram positif , anaerob obligat besar dan mampu membentuk spora. Bentuk vegetasi kuman ini mudah di musnahkan dengan panas dan desinfektan , tidak dapat hidup dengan adanya oksigen. kuman ini mampu bertahan pada suhu sampai 121 derajat celcius selama 10 – 15 menit serta resisten terhadap alkohol atau zat kimia lain. spora ini terdapat di tanah, kotoran hewan dan manusia yang menghasilkan dua jenis eksotosin yaitu tetanolisin dan tetanospasmin. Tetanolisin merusak membran sel dan jaringan sehingga membuat tempat yang sesuai untuk pertumbuhan dan proliferasi. Tetanospasmin merupakan jenis toksin yang paling paten.

3.     Masa Inkubasi
Masa inkubasi berpariasi antara 2- 60 hari.masa inkubasi yang panjang biasanya mempunyai prognisis baik di bandingkan masa inkubasi yang pendek.

4.     Tanda dan gejala
a.     Nyeri
b.     Kekakuan otot
c.     Sulit membuka mulut, lockjaw
d.     Kejang yang khas dengan fleksi dan abduksi lengan
e.     Epistotonus (kejang pada punggung)

5.     Komplikasi   
Yang sering terjadi adalah :
a.     Laringospasme ( spasme pita suara ) atau spasme otot pernapasan.
b.     Patah tulang belakang / tulang panjang akibat kontraksi dan kejang yang lama.
c.     Infeksi Nosokomial karena perawatan yang lama.
d.     Pneumonia aspirasi.
e.     Dekubitus.
f.      Emboli paru.

6.     Skore tetanus

VARIABLE
TOLAK UKUR
NILAI
Masa inkubasi
< 48 jam
2-5 hari
6-10 hari
11-14 hari
> 14 hari
5
4
3
2
1
Lokasi infeksi
Internal/umbilikal
Leher, kepala, dinding tubuh
Ekstremitas proksimal
Ekstremitas distal
Tidak diketahui
5
4
3
2
1
Imunisasi
Tidak ada
Mungkin ada/ibu dapat
>10 tahun yang lalu
< 10 tahun
Proteksi lengkap
10
8
4
2
0
Faktor pemberat
Penyakit/trauma membahayakan jiwa
Keadaan yang tidak langsung membahayakan jiwa
Keadaan yang tidak membahayakan jiwa
Trauma atau penyakit ringan
ASA – derajat status fisik penderita
10
8
4
2
1


7.     Penatalaksanaan
             i.      Umum
1.     Diagnosis segera
Memungkinkan terapi segera sehingga merupakan hal yang sangat penting. Diagnosa yang tepat sangat bergantung dari pengetahuan dan pengalaman dari pemeriksa
2.     Anamnesa luka
3.     Gambaran klinis
Uji spatula merupakan uji sederhana yang cukup baik. Spatula digunakan untuk menyentuh bagian belakang dinding faring. Uji positif  bila terjadi reflek berupa kontraksi otot maseter ,sedangkan reflek berupa muntah merupakan uji negatif untuk tetanus.

          ii.      Spesifik
Belum ditemukan obat yang secara spesifik dapat melawan toksin yang telah berikatan dengan jaringan syaraf dan menyebabkan sakit .yang ada hanyalah eradikasi kuman dari luka dan menetralkan toksin di dalam sirkulasi .
Netralisasi toksin yang bersirkulasi.
Human tetanus immunoglobulin (HTlg) merupakan anti toksin dengan dosis yang masih di perdebatkan ,namun dosis 500 unit direkomendasikan. ATS masih di gunakan di berbagai negara berkembang termasuk indonesia dengan dosis 20.000 unit IM/24 jam selama 5 hari .

Eradikasi kuman .
Dilakukan dengan antibiotik dan pembersihan (Debridement) .
Antibiotik yang sangat di perlukan adalah Penisilin dan metronidazole.

        iii.      Simptomatis
Penatalaksanaan simtomatis terdiri dari pengendalian spasme dan disfungsi otonom.

Pengendalian spasme dengan sedasi yaitu diazepam dengan dosis 15-100 mg/jam, midazolam sebagai pengganti diazepam, dan procopol yang diberikan dengan dosis 3.5-4.5mg/kg/BB. Obat pelumpuh otot juga di perlukan yaitu pankoronium,vekuranium,atrakurium.

pengendalian disfungsi otonom ,dengan morpin ,klanidin,magnesium untuk menekan pelepasan katekolamin. Terapi suportif di perlukan untuk pasien yang di berikan sedasi berat, pelumpuh otot , dan ventilasi mekanik. Terapi suportif tersebut adalah dengan fisioterapi dada, penghisapan lendir secara berkala, pemeliharaan kebersihan mulut, 
fisioterapi ekstremitas, pemeliharaan kulit, profilaksis trombosis, dan nutrisi











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar