Jumat, 16 September 2011

Askep Lansia


BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
          Keberhasilan pembangunan terutama dalam bidang teknologi kedokteran dan kesehatan berdampak terhadap meningkatnya usia harapan hidup. Akibatnya terjadi perubahan struktur penduduk menjadi berbentuk piramid terbalik, dimana jumlah orang lanjut usia (Lansia) lebih banyak dibandingkan anak berusia 14 tahun kebawah. Hal ini tidak hanya terjadi di Negara-negara maju, tetapi di Indonesia terjadi hal yang serupa.
Indonesia termasuk salah satu negara, dimana proses penuaan penduduknya terjadi paling cepat di Asia Tenggara dimana proyeksi penduduk serta estimasi rata-rata harapan hidup penduduk Indonesia menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tahun 2005 rata-rata usia harapan hidup sekitar 67,8 tahun meningkat menjadi 70 tahun antara tahun 2005-2010. Persentase penduduk lanjut usia, yaitu seseorang yang berusia di atas 60 tahun, sekitar 9,5% pada tahun 2005 akan menjadi 11% atau sekitar 28 juta pada tahun 2020 (Bappenas, BPS, dan UNFPA, 2005). 
Peningkatan harapan hidup ini, memang patut untuk disyukuri, namun disisi lain kondisi ini menimbulkan polemik baru dalam kehidupan bermasyarakat maupun berkeluarga. Ketika seseorang sudah mencapai usia tua dimana fungsi-fungsi tubuhnya tidak dapat lagi berfungsi secara baik, maka lansia membutuhkan banyak bantuan dalam menjalani aktivitas-aktivitas kehidupannya. Disamping itu, berbagai penyakit degeneratif yang menyertai keadaan lansia membuat mereka memerlukan perhatian ekstra dari orang-orang disekelilingnya.
Lansia juga memerlukan berbagai hal lain untuk dapat mempertahankan kualitas hidupnya seperti latihan-latihan yang dapat melatih kekuatan tubuhnya agar tidak terus menurun, ataupun mempertahankan fungsi kognitifnya serta membutuhkan sosialisasi sehingga lansia tidak  merasa sendirian untuk mencegah depresi. Hal ini menuntut perhatian khusus dari keluarga sebagai orang terdekat untuk menjaga dan merawat lansia di rumah.
Beberapa penelitian menyebutkan, bahwa lansia lebih senang dirawat di rumah karena mereka mendapatkan rasa nyaman dan aman dan selalu berada di tengah-tengah keluarga. Perawatan kesehatan lansia adalah perawatan lansia sebagai klien di rumah tidak hanya meliputi pelayanan kesehatan saja, namun juga pelayanan pendukung untuk dapat mendorong lansia menjadi lebih cepat mencapai kondisi sehat dan juga mandiri. Mengingat banyaknya masalah dan kebutuhan yang diperlukan lansia, oleh karena itu diperlukan perawatan lansia dirumah dimana perawatan lansia diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup lansia sehingga mereka tetap merasa bahagia dan dapat menjalani kehidupan masa tuanya dengan lebih baik.

B.     RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
a.    Apa itu lansia dan penggolongannya?
b.    Masalah- masalah kesehatan apa saja yang biasanya dihadapi oleh lansia?
c.    Bagaimana pendekatan  yang dipakai dalam perawatan lansia di  rumah?
d.    Bagaimana peranan keluarga dalam asuhan keperawatan pada lansia di rumah?
e.    Bagaimana asuhan keperawatan pada lansia di rumah?

C.     TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini sebagai berikut:
a.    Untuk mengetahui pengertian lansia dan penggolongannya.
b.    Untuk mengetahui masalah-masalah yang biasanya dihadapi oleh lansia.
c.    Untuk mengetahui pendekatan yang digunakan dalam perawatan lansia dirumah.
d.    Untuk mengetahui peranan keluarga dalam perawatan lansia di rumah.
e.    Untuk mengetahui asuhan keperawatan yang di berikan  pada perawatan lansia di rumah
D.     MANFAAT PENULISAN
Adapun manfaat yang diperoleh dari makalah ini adalah pembaca dapat memperoleh informasi tentang masalah apa saja yang muncul pada lansia, pendekatan yang dipakai dalam perawatan lansia di rumah, asuhan keperawatan yang diberikan khususnya dari tujuan pemberian asuhan keperawatan pada lansia, diagnosa yang muncul berdasarkan masalah yang terjadi pada lansia, dan Intervensi keperawatan yang bisa diberikan pada lansia berdasarkan diagnosa yang muncul dari masing-masing masalah.

BAB II
PEMBAHASAN
A.      PENGERTIAN LANSIA
Lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas (UU No.13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia). Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi (Constantinides, 1994).
Penggolongan lansia :
Depkes RI, membagi lansia menjadi:
a.      Kelompok menjelang usia lanjut (masa vibrilitas ) (45-54 tahun)
b.      Kelompok usia lanjut (presenium ) (55-64 tahun)
c.      Kelompok usia lanjut (senium ) (> 65 tahun)
WHO, membagi lansia menjadi:
a.      Usia pertengahan (middle age) (45-59 tahun)
b.      Usia lanjut (elderly) (60-74 tahun)
c.      Usia tua (old) (75-90 tahun)
d.      Usia sangat tua (very old ) (> 90 tahun)

B.     MASALAH-MASALAH KESEHATAN PADA LANSIA
Proses penuaan merupakan proses alamiah setelah tiga tahap kehidupan, yaitu masa anak, dewasa, dan masa tua yang tidak dapat dihindari oleh setiap individu dimana akan menimbulkan perubahan-perubahan struktur dan fisiologis dari beberapa sel/jaringan/organ dan system yang ada pada tubuh manusia. (Mubarak,2009:140)
Kemunduran biologis yang terlihat sebagai gejala-gejala kemunduran fisik, diantaranya yaitu :
1.      Kulit mulai mengendur dan wajah mulai keriput serta garis-garis yang menetap
2.      Rambut kepala mulai memutih atau beruban
3.      Gigi mulai lepas (ompong)
4.      Penglihatan dan pendengaran berkurang
5.      Mudah lelah dan mudah jatuh
6.      Gerakan menjadi lamban dan kurang lincah akibat penurunan kelemahan otot ekstremitas bawah dan kekuatan sendi
7.      Gangguan gaya berjalan,
8.      Sinkope-dizziness;
Disamping itu, juga terjadi kemunduran kognitif antara lain :
1.      Suka lupa, ingatan tidak berfungsi dengan baik
2.      Ingatan terhadap hal-hal di masa muda lebih baik daripada hal-hal yang baru saja terjadi
3.      Sering adanya disorientasi terhadap waktu, tempat dan orang
4.      Sulit menerima ide-ide baru
Nina Kemala Sari dari Divisi Geriatri, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam suatu pelatihan di kalangan kelompok peduli lansia, menyampaikan beberapa masalah yang kerap muncul pada usia lanjut , yang disebutnya sebagai a series of I’s. Mulai dari immobility (imobilisasi), instability (instabilitas dan jatuh), incontinence (inkontinensia), intellectual impairment (gangguan intelektual), infection (infeksi), impairment of vision and hearing (gangguan penglihatan dan pendengaran), isolation (depresi), Inanition (malnutrisi), insomnia (ganguan tidur), hingga immune deficiency (menurunnya kekebalan tubuh). Selain gangguan-gangguan tersebut, Nina juga menyebut tujuh penyakit kronik degeratif yang kerap dialami para lanjut usia, yaitu : Osteo Artritis (OA), Osteoporosis, Hipertensi, Diabetes Mellitus, Dimensia, Penyakit jantung koroner, Kanker
Secara umum permasalahan yang sering terjadi pada lansia antara lain :
1.     Mudah jatuh
Jatuh pada lanjut usia merupakan masalah yang sering terjadi. Penyebabnya multi-faktor. Dari faktor instrinsik misalnya : gangguan gaya berjalan, kelemahan otot ekstremitas bawah, kekakuan sendi, dan sinkope atau pusing. Untuk faktor ekstrinsik, misalnya lantai licin dan tidak rata, tersandung benda, penglihatan yang kurang karena cahaya kurang terang, dan sebagainya.
2.     Mudah lelah
Hal ini disebabkan oleh :
·       Faktor psikologis : perasaan bosan, keletihan, atau depresi
·       Gangguan organis : anemia, kekurangan vitamin, perubahan pada tulang (osteomalasia), gangguan pencernaan,kelainan metabolisme (diabetes melitus, hipertiroid), gangguan ginjal dengan uremia, gangguan faal hati, gangguan sistem peredaran darah dan jantung.
·       Pengaruh obat, misalnya  obat penenang, obat jantung, dan obat yang melelahkan daya kerja otot.
3.     Berat badan menurun
Berat badan menurun disebabkan oleh :
·       Pada umumnya nafsu makan menurun karena kurang adanya gairah hidup atau kelesuan serta kemampuan indera perasa menurun.
·       Adanya penyakit kronis
·       Gangguan pada saluran pencernaan sehingga penyerapan makanan terganggu
·       Faktor sosio-ekonomis (pensiunan)
4.     Gangguan eliminasi
Sering ngompol yang tanpa disadari (inkontinensia urine) merupakan salah satu keluhan utama pada orang lanjut usia. Hasil penelitian pada populasi lanjut usia di masyarakat (usia di atas 70 tahun) didapatkan 7% pria dan 12 % wanita mengalami inkontinensia urine. Penyebab inkontinensia antara lain :
·    Melemahnya otot dasar panggul yang menyangga kandung kemih dan memperkuar sfingter uretra
·       Kontraksi abnormal pada kandung kemih
·       Obat diuretik yang mengakibatkan sering berkemih dan obat penenang terlalu banyak
·       Radang kandung kemih
·       Radang saluran kemih
·       Kelainan kontrol pada kandung kemih
·       Kelainan persyarafan pada kandung kemih
·       Akibat adanya hipertrofi prostat
·       Faktor psikologis
5.     Gangguan ketajaman penglihatan
Gangguan ini disebabkan oleh :
·       Presbiopi
·       Kelainan lensa mata (refleksi lensa mata berkurang)
·       Kekeruhan pada lensa (katarak)
·       Iris mengalami proses degenerasi, menjadi kurang cemerlang dan mengalami depigmentasi. Tampak ada bercak berwarna muda sampai putih
·       Pupil kontriksi, refleks direk lemah
·       Tekanan dalam mata meninggi, lapang pandang menyempit, yang disebut dengan glaukoma
·       Retina terjadi degenerasi, gambaran fundus mata awalnya merah jingga cemerlang menjadi suram dan jalur-jalur berpigmen.
·       Radang saraf mata
·       Penurunan produksi air mata akibat kehilangan jaringan lemak dalam aparatus lakrimal
·       Lensa menguning dan berangsur-angsur menjadi lebih buram mengakibatkan katarak, sehingga mempengaruhi kemampuan untuk membedakan dan menerima warna-warna
6.     Gangguan pendengaran
Gangguan pendengaran yang sering terjadi :
·       Otosklerosis merupakan tuli konduksi yang menahun karena tulang sanggurdi kaku dan tidak dapat bergerak secara leluasa. Penyakit ini harus ditangani oleh dokter THT. Otosklerosis akibat atrofi membran tympani.
·       Presbikusis merupakan tuli saraf sensorineural frekuensi tinggi, terjadi pada usia lanjut, simetris kiri dan kanan. Disebabkan proses degenerasi di telinga dalam. Hilangnya kemampuan pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.
·       Sumbatan serumen merupakan gangguan pendengaran yang timbul akibat penumpukan serumen di liang telinga dan menyebabkan rasa tertekan yang mengganggu. Terjadinya pengumpulan serumen dapat mengeras karena meningkatnya keratin.
7.     Gangguan tidur
Faktor usia sangat berpengaruh terhadap kualitas tidur. Pada kelompok lanjut usia (60 tahun), ditemukan 7 % kasus yang mengeluh mengenai masalah tidur (hanya dapat tidur tidak lebih dari 5 jam sehari). Hal yang sama juga ditemukan pada 22% kasus pada kelompok usia 70 tahun. Selain itu, terdapat 30 % kelompok usia 70 tahun yang terbangun di malam hari. Angka ini tujuh kali lebih besar dibandingkan dengan kelompok usia 20 tahun.
Gangguan tidur dapat disebabkan oleh :
·       Faktor ekstrinsik (luar), misalnya lingkungan yang kurang tenang
·       Faktor intrinsik baik organik maupun psikogenik. Organik berupa nyeri, gatal, kram betis, sakit gigi, sindrom tungkai bergerak (akatisia) atau penyakit tertentu yang membuat gelisah. Psikogenik misalnya depresi, kecemasan, stres, iritabilitas, dan marah yang tidak tersalurkan.

C.     PENDEKATAN PERAWATAN LANJUT USIA  DI RUMAH
Pendekatan perawatan pada lansia di rumah menggunakan pendekatan yang holistik (biologi/fisik, psikologi, sosial, spiritual) diantaranya :
1.    Pendekatan Biologi/ fisik
Perawatan yang memperhatikan kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian-kejadian yang dialami klien lanjut usia semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa di capai dan dikembangkan, serta penyakit yang yang dapat dicegah atau ditekan progresifitasnya. Perawatan fisik secara umum bagi klien lanjut usia dapat dibagi atas dua bagian yaitu:
1.      Klien lanjut usia yang masih aktif, yang keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhannya sehari-hari masih mampu melakukan sendiri di rumah.
2.      Klien lanjut usia yang pasif atau yang tidak dapat bangun, yang keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan atau sakit. Perawat harus mengetahui dasar perawatan klien usia lanjut ini terutama tentang hal-hal yang berhubungan dengan kebersihan perorangan untuk mempertahankan kesehatannya di rumah.
Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya peradangan, mengingat sumber infeksi dapat timbul bila keberhasilan kurang mendapat perhatian.
Adapun komponen pendekatan fisik yang lebih mendasar adalah memperhatikan atau membantu para klien lanjut usia untuk bernafas dengan lancar, makan, minum, melakukan eliminasi, tidur, menjaga sikap tubuh waktu berjalan, tidur, menjaga sikap, tubuh waktu berjalan, duduk, merubah posisi tiduran, beristirahat, kebersihan tubuh, memakai dan menukar pakaian, mempertahankan suhu badan melindungi kulit dan kecelakaan.Toleransi terhadap kekurangan O2 sangat menurun pada klien lanjut usia, untuk itu kekurangan O2 yang mendadak harus dicegah dengan posisi bersandar pada beberapa bantal, jangan melakukan gerak badan yang berlebihan.
Seorang perawat homecare harus mampu memotivasi dan memandirikan lansia sesuai dengan kemampuannya sehingga lansia mampu memenuhi kebutuhan yang optimal.
Kesehatan lansia perlu diperiksa secara berkala untuk mengetahui kondisi kesehatannya terlebih lagi pada lansia yang diduga menderita penyakit tertentu atau bila memperlihatkan kelainan. Pemeriksaan ini tidak hanya dilakukan oleh perawat homecare melainkan keluarga harus ikut berpartisipasi dalam pengawasan kesehatan pada lansia di rumah. Dalam hal ini perawat homecare berperan dalam memberikan penjelasan dan penyuluhan kesehatan.
2.    Pendekatan Psikososial
Perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien lanjut usia, perawat homecare harus selalu memegang prinsip ” Tripple”, yaitu sabar, simpatik dan service.
Pada dasarnya klien lanjut usia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih sayang dari lingkungan, termasuk perawat yang memberikan perawatan. Dalam memberikan pelayanan, perawat homecare harus selalu menciptakan suasana yang aman, tidak gaduh, membiarkan mereka melakukan kegiatan dalam batas kemampuan dan hobi yang dimilikinya.
Perawat homecare memotivasi semangat dan kreasi klien lanjut usia dalam memecahkan dan mengurangi rasa putus asa , rendah diri, rasa keterbatasan sebagai akibat dari ketidakmampuan fisik, dan kelainan yang dideritanya.
Hal itu perlu dilakukan karena perubahan psikologi terjadi karena bersama dengan semakin lanjutnya usia. Perubahan-perubahan ini meliputi gejala-gejala, seperti menurunnya daya ingat untuk peristiwa yang baru terjadi, berkurangnya kegairahan atau keinginan, peningkatan kewaspadaan , dan perubahan pola tidur dengan suatu kecenderungan untuk tiduran diwaktu siang.
3.    Pendekatan spiritual
Perawat homecare membantu klien dalam untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan, memperoleh ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianutnya dalam kedaan sehat maupun sakit. Pendekatan perawat homecare pada klien lanjut usia bukan hanya terhadap fisik saja, melainkan perawat homecare lebih dituntut menemukan pribadi klien lanjut usia melalui agama mereka.
Beberapa tujuan pemberian asuhan keperawatan lansia di rumah antara lain :
1.      Agar lanjut usia dapat melaukan kegiatan sehari –hari secara mandiri dengan peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan pemeliharaan kesehatan, sehingga memiliki ketenangan hidup dan produktif sampai akhir hayatnya.
2.      Mempertahankan kesehatan serta kemampuan dari mereka yang usianya telah lanjut dengan jalan perawatan dan pencegahan.
3.      Membantu mempertahankan serta membesarkan daya hidup atau semangat hidup klien lanjut usia (life support)
4.      Menolong dan merawat klien lanjut usia yang menderita penyakit atau gangguan baik kronis maupun akut.
5.      Merangsang para petugas kesehatan untuk dapat mengenal dan menegakkan diagnosa yang tepat dan dini, bila mereka menjumpai kelainan tertentu
6.      Mencari upaya semaksimal mungkin, agar para klien lanjut usia yang menderita suatu penyakit, masih dapat mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perlu suatu pertolongan (memelihara kemandirian secara maksimal).

D.     PERANAN KELUARGA DALAM ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DI RUMAH
Keluarga merupakan entry point dalam perawatan lansia di rumah karena keluarga merupakan sistem pendukung yang paling penting untuk lansia.
Peran keluarga dalam merawat lansia menurut Maryam, antara lain :
·         menjaga atau merawat lansia
·         Mengantisipasi perubahan social ekonomi
·         Memberikan motivasi dan memfasilitasi kebutuhan spriritual bagi lansia
·         Melakukan pembicaraan terarah
·         Mempertahankan kehangatan keluarga
·         Membantu melakukan persiapan makan bagi lansia
·         Membantu dalam hal transportasi
·         Memberikan kasih sayang
·         Menghormati dan menghargai
·         Bersikap sabar dan bijaksana terhadap prilaku lansia
·         Memberikan kasih sayang, menyediakan waktu, serta perhatian
·         Jangan menganggapnya sebagai beban
·         Memberikan kesempatan untuk tinggal bersama
·         Mintalah nasihat dalam peristiwa-peristiwa penting
·         Mengajaknya dalam acara-acara keluarga
·         Membantu mencukupi kebutuhannya
·         Memberi dorongan untuk tetap mengikuti kegiatan-kegiatan di luar rumah termasuk pengambangan hobi.
·         Membantu mengatur keuangan
·         Mengupayakan sarana transportasi untuk kegiatan mereka termasuk rekreasi
·         Memeriksakan kesehatan secara teratur
·         Memberi dorongan untuk tetap hidup bersih dan sehat
·         Mencegah terjadinya kecelakaan baik di dalam maupun di luar rumah
·         Pemeliharaan usia lanjut adalah tanggung jawab bersama
·         Memberi perhatian yang baik terhadap orang tua yang sudah lanjut, maka anak-anak kita kelak akan bersikap hal yang sama.
(Maryam, dkk. 2008 : 42)

E.     ASUHAN KEPERAWATAN LANJUT USIA DI RUMAH
Diagnosa Keperawatan
       Aspek fisik atau biologis
Dx 1 : Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d tidak mampu dalam memasukkan, memasukan, mencerna, mengabsorbsi makanan karena factor biologi.
NOC I : Status nutrisi
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan pasien diharapkan mampu:
·         Asupan nutrisi tidak bermasalah
·         Asupan makanan dan cairan tidak bermasalah
·         Energy tidak bermasalah
·         Berat badan ideal

NIC I : Manajemen ketidakteraturan makan (eating disorder management)
1.      Diskusikan dengan pasien untuk membuat target berat badan, jika berat badan pasien tidak sesuai dengan usia dan bentuk tubuh.
2.      Diskusikan dengan ahli gizi untuk menentukan asupan kalori setiap hari supaya mencapai dan atau mempertahankan berat badan sesuai target.
3.      Ajarkan dan kuatkan konsep nutrisi yang baik pada pasien
4.      Kembangkan hubungan suportif dengan pasien
5.      Dorong pasien untuk memonitor diri sendiri terhadap asupan makanan dan kenaikan atau pemeliharaan berat badan
6.      Gunakan teknik modifikasi tingkah laku untuk meningkatkan berat badan dan untuk menimimalkan berat badan.
7.      Berikan pujian atas peningkatan berat badan dan tingkah laku yang mendukung peningkatan berat badan.

Dx 2 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan insomnia dalam waktu lama, terbangun lebih awal atau terlambat bangun dan penurunan kemampuan fungsi yng ditandai dengan penuaan perubahan pola tidur dan cemas
NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2×24 jam pasien diharapkan dapat memperbaiki pola tidurnya dengan criteria :
·         Mengatur jumlah jam tidurnya
·         Tidur secara rutin
·         Meningkatkan pola tidur
·         Meningkatkan kualitas tidur
·         Tidak ada gangguan tidur
NIC : Peningkatan Tidur
1.      Tetapkan pola kegiatan dan tidur pasien
2.      Monitor pola tidur pasien dan jumlah jam tidurnya
3.      Jelaskan pentingnya tidur selama sakit dan stress fisik
4.      Bantu pasien untuk menghilangkan situasi stress sebelum jam tidurnya
5.      Sarankan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman

Dx 3 : Inkontinensia urin fungsional berhubungan dengan keterbatasan   neuromuskular yang ditandai dengan waktu yang diperlukan ke toilet melebihi waktu untuk menahan pengosongan bladder dan tidak mampu mengontrol pengosongan.
NOC  : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan diharapkan pasien mampu :
·         Kontinensia Urin
·         Merespon dengan cepat keinginan buang air kecil (BAK).
·         Mampu mencapai toilet dan mengeluarkan urin secara tepat waktu.
·         Mengosongkan bladde dengan lengkap.
·         Mampu memprediksi pengeluaran urin.
NIC  : Perawatan Inkontinensia Urin
1.      Monitor eliminasi urin
2.      Bantu klien mengembangkan sensasi keinginan BAK.
3.      Ajarkan latihan blader training
4.      Modifikasi baju dan lingkungan untuk memudahkan klien ke toilet.
5.      Instruksikan pasien untuk mengonsumsi air minum sebanyak 1500 cc/hari.

Dx 4 : Gangguan proses berpikir berhubungan dengan kemunduran atau kerusakan memori sekunder
NOC : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan pasien diharapkan dapat meningkatkan daya ingat dengan criteria :
·         Mengingat dengan segera informasi yang tepat
·         Mengingat inormasi yang baru saja disampaikan
·         Mengingat informasi yang sudah lalu
NIC : Latihan Daya Ingat
1.      Diskusi dengan pasien dan keluarga beberapa masalah ingatan
2.      Rangsang ingatan dengan mengulang pemikiran pasien kemarin dengan cepat
3.      Mengenangkan tentang pengalaman di masalalu dengan pasien

Dx 5 : Kelemahan mobilitas fisik b.d kerusakan musculoskeletal dan neuromuscular ditandai dengan : Perubahan gaya berjalan, Gerak lambat, Gerak menyebabkan tremor, Usaha yang kuat untuk perubahan gerak
NOC : Level Mobilitas ( Mobility Level )
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan  diharapkan pasien dapat :
·         Memposisikan penampilan tubuh
·         Ambulasi : berjalan
·         Menggerakan otot
·         Menyambung gerakan/mengkolaborasikan gerakan
NIC :  Latihan dengan Terapi Gerakan ( Exercise Therapy Ambulation )
1.      Konsultasi kepada pemberi terapi fisik mengenai rencana gerakan yang sesuai dengan kebutuhan
2.      Dorong untuk bergerak secara bebas namun masih dalam batas yang aman
3.      Gunakan alat bantu untuk bergerak, jika tidak kuat untuk berdiri (mudah goyah/tidak kokoh)

Dx 6 : Kelelahan b.d kondisi fisik kurang ditandai dengan:Peningkatan kebutuhan istirahat, Lelah, Penampilan menurun
NOC Activity Tolerance
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan diharapkan pasien dapat:
·         Memonitor  usaha bernapas dalam respon aktivitas
·         Melaporkan aktivitas harian
·         Memonitor ECG dalam batas normal
·         Memonitor warna kulit
NIC Energy Management
1.      Monitor intake nutrisi untuk memastikan sumber energi yang adekuat
2.      Tentukan keterbatasan fisik pasien
3.      Tentukan penyebab kelelahan
4.      Bantu pasien untuk jadwal  istirahat

Dx 7 : Risiko jatuh
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ... x ... pertemuan diharapkan tidak terjadi risiko jatuh.
Intervensi Keperawatan :
1.      Anjurkan klien/lansia untuk menggunakan sepatu jalan yang kuat atau datar ketika hendak berjalan
R/ : bidang datar mempertahankan keseimbangan lansia dalam berjalan à menurunkan resiko terjatuh.
2.      Sediakan lingkungan yang aman bagi pasien
R/ : Manipulasi lingkungan sangat diperlukan terhadap perubahan fisik klien/ lansia sehingga dapat menurunkan resiko jatuh.
3.      Memasang side rail tempat tidur, memberikan penerangan yang cukup, memindahkan barang-barang berbahaya
R/ : Manipulasi lingkungan sangat diperlukan untuk menghindari resiko jatuh/cidera pada lansia.
4.      Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien dalam beraktivitas.
R/ : Meningkatkan control terhadap lansia.

Dx 8 : Kerusakan Memori b.d  gangguan neurologi ditandai dengan : Tidak mampu mengingat informasi factual, Tidak mampu mengingat kejadian yang baru saja terjadi atau masa lampau, Lupa dalam melaporkan atau menunjukkan pengalaman, Tidak mampu belajar atau menyimpan keterampilan atau informasi baru
NOC : Orientasi Kognitif
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan diharapkan pasien dapat :
·         Mengenal diri sendiri
·         Mengenal orang atau hal penting
·         Mengenal tempatnya sekarang
·         Mengenal hari, bulan, dan tahun dengan benar
NIC : Pelatihan Memori ( Memory Training )
1.      Stimulasi memory dengan mengulangi pembicaraan secara jelas di akhir pertemuan dengan pasien.
2.      Mengenang pengalaman masa lalu dengan pasien.
3.      Menyediakan gambar untuk mengenal ingatannya kembali
4.      Monitor perilaku pasien selama terapi

Aspek Psikososial
Dx 9 : Coping tidak efektif b.d percaya diri tidak adekuat dalam kemampuan koping, dukungan social tidak adekuat yang dibentuk dari karakteristik atau hubungan.
NOC I : koping (coping)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan pasien secara konsisten diharapkan mampu:
·         Mengidentifikasi pola koping efektif
·         Mengedentifikasi pola koping yang tidak efektif
·         Melaporkan penurunan stress
·         Memverbalkan control perasaan
·         Memodifikasi gaya hidup yang dibutuhkan
·         Beradaptasi dengan perubahan perkembangan
·         Menggunakan dukungan social yang tersedia
·         Melaporkan peningkatan kenyamanan psikologis
NIC I : coping enhancement
1.      Dorong aktifitas social dan komunitas
2.      Dorong pasien untuk mengembangkan hubungan
3.      Dorong berhubungan dengan seseorang yang memiliki tujuan dan ketertarikan yang sama
4.      Dukung pasein untuk menguunakan mekanisme pertahanan yang sesuai.
5.      Kenalkan pasien kepada seseorang yang mempunyai latar belakang pengalaman yang sama.

Dx 10 : Isolasi social b.d perubhaan penampilan fisik, peubahan keadaan sejahtera, perubahan status mental.
NOC I : Lingkungan keluarga : internal ( family environment: interna)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan pasien secara konsisten diharapkan mampu:
·         Berpatisipasi dalam aktifitas bersama
·         Berpatisipasi dala tradisi keluarga
·         Menerima kujungan dari teman dan  anggota keluarga besar
·         Memberikan dukungan satu sama lain
·         Mengekspresikan perasaan dan masalah kepada yang lain.
·         Mendorong anggota keluarga untuk tidak ketergantungan
·         Berpatisipasi dalam rekreasi dan acara aktifitas komunitas
·         Memecahkan masalah
NIC I : Keterlibatan keluarga (Family involvement)
1.      Mengidentifikasikan kemampuan anggota keluarga untuk terlibat dalam perawatan pasien.
2.      Menentukan sumber fisik, psikososial dan pendidikan pemberi pelayanan kesehatan yang utama.
3.      Mengidentifkasi deficit perawatan diri pasien
4.      Menentukan tinggat ketergantungan pasien terhadap keluarganya  yang sesuai dengan umur atau penyakitnya.

Dx 11 : Cemas b.d perubahan dalam status peran, status kesehatan, pola interaksi , fungsi peran, lingkungan, status ekonomi ditandai dengan: Ekspresi yang mendalam dalam perubahan hidup, Mudah tersinggung, Gangguan tidur
NOC  Anxiety Control
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan diharapkan pasien dapat:
·         Memonitor  intensitas  cemas
·         Melaporkan tidur  yang adekuat
·         Mengontrol respon cemas
·         Merencanakan strategi koping dalamsituasi stress
NIC  Anxiety Reduction
1.      Bantu pasien untuk menidentifikasi situasi percepatan cemas
2.      Dampingi pasien untuk mempromosikan kenyamanan dan mengurangi ketakutan
3.      Identifikasi ketika perubahan level cemas
4.      Instuksikan pasien dalam teknik relaksasi

Aspek spiritual
Dx 12 : Distress spiritual b.d peubahan hidup, kematian atau sekarat diri atau orang lain, cemas, mengasingkan diri, kesendirian atau pengasingan social, kurang sosiokultural.
NOC I : pengharapan (hope)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan pasien secara luas diharapkan mampu:
·         Mengekspresikan orientasi masa depan yang positif
·         Mengekspresikan arti kehidupan
·         Mengekspresikan rasa optimis
·         Mengekspresikan perasaan untuk mengontrol diri sendiri
·         Mengekspresikan kepercayaan
·         Mengekspresikan rasa percaya pada diri sendiri dan orang lain
NIC I : penanaman harapan (hope instillation)
1.      Pengkaji pasian atau keluarga untuk mengidentifikasi area pengharapan dalam hidup
2.      Melibatkan pasien secara aktif dalam perawatan diri
3.      Mengajarkan keluarga tentang aspek positif pengharapan
4.      Memberikan kesempatan pasien atau keluarga terlibat dalam support group.
5.      Mengembangkan mekanisme paran koping pasien

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.      KESIMPULAN
Lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas. Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi. Kemunduran yang terjadi pada lansia tidak hanya dari segi fisik saja tetapi juga pada kognitifnya sehingga akan sering timbul berbagai masalah mulai dari immobility (imobilisasi), instability (instabilitas dan jatuh), incontinence (inkontinensia), intellectual impairment (gangguan intelektual), infection (infeksi), impairment of vision and hearing (gangguan penglihatan dan pendengaran), isolation (depresi), Inanition (malnutrisi), insomnia (ganguan tidur), hingga immune deficiency (menurunnya kekebalan tubuh). Untuk mengatasi permasalah-permasalan tersebut, perawat harus mengadakan pendekatan dalam perawatan pasien dengan lansia di rumah baik melalui pendekatan fisik, psikososial maupun spiritual sehingga masalah-masalah yang dialami pasien bisa terselesaikan. Perawatan lansia di rumah diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup lansia sehingga mereka tetap merasa bahagia dan dapat menjalani kehidupan masa tuanya dengan lebih baik.


B.     SARAN
1.    Perawatan lansia di rumah sebaiknya di lakukan secara holistic meliputi: biologi, psikologi, social, spiritual.
2.    Keluarga diharapkan selalu memberikan perhatian yang penuh kepada lansia sehingga lansia tidak merasa terkucilkan di rumah.
3.    Dalam perawatan lansia sebaiknya berupaya untuk memandirikan lansia sesuai dengan kemampuannya.
1.      Dari unit terkecil yaitu keluarga dan masyarakat diharapkan ikut berpartisipasi dalam perawatan lansia di rumah.
2.      Kepada perawat homecare agar memberikan asuhan keperawatan secara holistik dan menyeluruh


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar