Minggu, 29 Mei 2011

URINE

PEMRIKSAAN ZAT WARNA DI DALAM URINE
I.              Tujuan : Untuk mengetahui adanya zat warna di dalam urine
II.          Dasar Teori :
Tes untuk empedu berdasarkan atas oksidasi pigmen oleh bermacam-macam pereaksi sehingga terbentuk derivate-derivat yang berwarna. Baik pigmen empedu maupun garam empedu terdapat dalam urin pada beberapa keadaan patologis. Urin yang mengandung empedu brwrana hijau kekuningan sampai coklat dan bila dikocok membentuk busa.
Bila terdapat sumbatan saluran empedu, maka empedu akan masuk ke dalam darah dan dikeluarkan melalui urine. Urine yang baru diekresikan/dikeluarkan hanya mengandung urobillinogen, tetapi bila urin ini dibiarkan berlama-lama diuradar, maka urobilinogen ini akan dioksidasi oleh oksigen yang ada diudara hingga terbentuk urobilin.
Air seni alias air kencing atau urin adalah cairan sisa yang dilepaskan oleh ginjal, yang kemudian dikeluarkan dari tubuh melalui proses urinasi (berkemih). Ekskresi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring ginjal dan untuk menjaga kestabilan cairan tubuh.
Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra. Komposisi urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial (jaringan penyokong).
Ø  Tahu kondisi organ
Materi yang terkandung di dalam urin bisa diketahui melalui urinalisis atau pemeriksaan urin. "Lewat urinalisis kita dapat mengetahui fakta tentang ginjal dan saluran urin. Selain itu, juga dapat diketahui mengenai faal berbagai organ tubuh, seperti hati, saluran empedu, pankreas, cortex adrenal, dan lain sebagainya," ungkap Dr. Yulia Anggraini dari Klinik Bina Insani, Jakarta Selatan.
Namun, ditambahkannya, memilih contoh (sampel) urin harus disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan. Ketika melakukan urinalisis memakai urin kumpulan sepanjang 24 jam pada seseorang, ternyata susunan urin itu tidak banyak berbeda dari susunan urin 24 jam berikutnya. Namun, bila mengadakan pemeriksaan dengan sampel-sampel urin pada saat yang tidak menentu, seperti di waktu siang atau malam, dapat dilihat perbedaan yang jauh dari sampel-sampel itu.
Pemeriksaan urin lengkap di laboratorium akan melihat warna urin, kepekatannya, pH, berat jenis, sel darah putih, sel darah merah, sedimen, sel epitelial, bakteri, kristal, glukosa, protein, keton, bilirubin, darah samar, nitrit, dan urobilinogen.
Ø  Infeksi saluran kemih
Diabetes, seperti diungkapkan Dr. Lenni Damayanti dari bagian Medical Check Up RS Internasional Bintaro, Tangerang, Banten, adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi lewat sampel-sampel urin. Urin seorang penderita diabetes (diabetesi) mengandung gula, yang tidak bakal ditemukan dalam urin orang yang sehat.
Tes urin bisa juga dipakai untuk melihat apakah seseorang mengalami gangguan hati atau tidak. Bisa dilihat dari bilirubin dan urobilinogennya negatif atau tidak. Lewat pemeriksaan urin pula, dapat diketahui apakah seseorang mengalami infeksi saluran kemih.
Seperti dilakukan Widyawati (45). Ia memeriksakan urin anaknya, Cahaya (10), di sebuah laboratorium di Jakarta Selatan. Kata Widyawati, anaknya mengalami panas tinggi dan mengeluh sakit saat buang air kecil.
Tiga minggu lalu Cahaya keluar dari rumah sakit karena menderita demam berdarah dan gejala tifus. "Waktu di rumah sakit, air seninya berwarna keruh seperti susu cair dalam kaleng. Sekarang, saya amati, buang air kecilnya keruh dan ada butiran-butiran putih kecil," ujar ibu dua anak ini.
Atas usul adiknya yang kebetulan seorang dokter, Widya mengambil sampel urin putrinya dan membawanya ke laboratorium. Hasilnya, dalam urin tersebut ada kandungan protein (albumin) dan sejumlah bakteri.
Selanjutnya, sambil membawa hasil pemeriksaan, Widya membawa Cahaya ke dokter spesialis anak. Diagnosis dokter, Cahaya mengalami infeksi saluran kemih. Dokter pun memberinya antibiotik dan obat penurun panas.
"Kira-kira empat hari kemudian, Cahaya tidak lagi mengeluh sakit ketika pipis. Warna urinnya pun kembali normal. Untuk memastikannya, saya kembali mengambil sampel air seni Cahaya untuk dibawa ke laboratorium. Tak lagi ada kandungan protein dalam air seninya," katanya lagi.
Ø  Tanda dehidrasi
Urin juga menjadi penunjuk dehidrasi (tubuh kekurangan cairan). Orang yang tidak menderita dehidrasi akan mengeluarkan urin bening seperti air. Sebaliknya, orang yang mengalami dehidrasi, urinnya berwarna kuning pekat atau cokelat karena tubuh kehilangan garam dan mineral dalam jumlah yang banyak.
Untuk mengembalikan urin Anda ke warna semula, cobalah minum larutan garam elektrolit, misalnya oralit. Bila oralit tak tersedia, cobalah larutan gula-garam. Cara membuatnya mudah saja, yakni larutkan satu sendok teh gula dan sejumput garam ke dalam 200 cc air matang. Bila dehidrasi tak membaik, perlu pemberian cairan infus. Nah, berwarna apakah urin Anda?
Ø  Pengambilan Sampel Air Seni
Menurut Wachyuni dari bagian Mikrobiologi RSVP Fatmawati, Jakarta Selatan, aria beberapa cara pengambilan sampel urin, yakni:
1. Urin sewaktu
Untuk berbagai pemeriksaan digunakan urin sewaktu, yakni urin dikeluarkan pada waktu yang tidak ditentukan secara khusus. Pemeriksaan ini baik untuk pemeriksaan rutin tanpa keluhan khusus.
2. Urin pagi
Maksudnya, urin yang pertama-tama dikeluarkan di pagi hari setelah bangun tidur. Urin ini lebih pekat daripada urin yang dikeluarkan di siang hari. Pemeriksaan urin pagi baik untuk sedimen, berat jenis, protein, juga tes kehamilan. Sebaliknya, urin pagi tidak baik untuk pemeriksaan penyaring karena adanya glukosuria.
3. Urin postprandial
Maksudnya, urin yang pertama kali dikeluarkan 1,5 - 3 jam sehabis makan. Sampel ini berguna untuk pemeriksaan glukosuria.
4. Urin 24 jam
Sampel ini digunakan untuk mengetahui keandalan angka analisis. Untuk mengumpulkan urin 24 jam diperlukan botol besar, bervolume 1,5 liter atau lebih yang ditutup dengan baik. Botol harus bersih dan memerlukan zat pengawet.
Cara mengumpulkan urin ini dikenal juga sebagai timed specimen, yakni urin siang 12 jam, dan urin malam 12 jam. Urin siang 12 jam dikumpulkan dari pukul 07.00 sampai 19.00.
Sementara urin malam 12 jam, dikumpulkan dari pukul 19.00 sampai pukul 7.00 keesokan harinya. Adakalanya urin 24 jam ditampung terpisah-pisah dalam beberapa botol dengan maksud tertentu. Contohnya, pada penderita diabetes melitus untuk melihat banyaknya glukosa dari santapan satu hingga santapan berikutnya.
5. Urin 3 gelas dan 2 gelas pada laki-laki
Urin jenis ini digunakan untuk pemeriksaan urologis. Selain itu, juga untuk mendapatkan gambaran tentang letak radang atau lesi lain, yang mengakibatkan adanya nanah atau darah dalam air kencing pria.
Tes HIV Lewat Urin
Tes urin menjadi cara sederhana dan efektif untuk mengidentifikasi infeksi HIV, terutama pada kelompok berisiko tinggi. Demikian yang dilaporkan para peneliti dalam jurnal Acquired Immune Deficiency Syndromes, beberapa waktu lalu.
"Kami yakin, tes urin berguna untuk mengidentifikasi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang tidak mau dites darah," kata Dr. Joseph B. Margolick dari The Johns Hopkins University, Baltimore, Amerika Serikat, seperti dikutip Reuters Health.
Margolick dan koleganya memberikan hipotesis bahwa metode skrining yang nyaman dan tidak melukai dapat mendeteksi ODHA yang tidak mau mengikuti prosedur tes darah. Metode tersebut diterapkan di daerah yang berisiko tinggi.
Untuk menyelidiki manfaat tes urin, selama periode waktu tiga tahun, peneliti melakukan skrining terhadap lebih dari 1.700 orang. Penelitian dilakukan 1 sampai 2 sesi di gereja, dapur restoran, balai pertemuan masyarakat, serta tempat berlangsungnya tes.
Secara keseluruhan diketahui 210 orang (12 persen) positif HIV. Di antara mereka yang diketahui positif ini 169 orang (80 persen) sebelumnya pernah mengikuti tes, tetapi hasilnya negatif.

Secara keseluruhan 87 persen dari mereka yang hasil tesnya positif mau kembali untuk mengambil hasilnya. Kebanyakan dari mereka mau dirujuk ke pelayanan kesehatan.
Para peneliti menekankan, orang yang dites di pusat pelayanan kesehatan masyarakat cenderung kembali untuk mengambil hasil tesnya. Menurut Margolick, pendekatan tersebut dapat meningkatkan pengawasan di daerah yang termasuk tinggi infeksi HIV. Diharapkan mereka bisa membantu orang untuk mendapatkan akses pengobatan HIV, sehingga akan meningkatkan kesehatan penderitanya secara bermakna.
Membaca Arti Warna Urin
Dijelaskan Dr. Lenni Damayanti, umumnya warna urin ditentukan oleh besarnya diuresis (peningkatan pembentukan kencing). Makin besar diuresis, makin muda warna urin.
Warna normal urin berkisar antara kuning muda hingga kuning tua. Warna itu disebabkan oleh beberapa zat, terutama urochrom dan urobilin. jika contoh urin bukan dalam gradasi kuning, bisa disebut abnormal, sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut.
Meski demikian, warna abnormal juga belum tentu karena penyakit berat. Bisa saja disebabkan hasil metabolisme abnormal yang berasal dari suatu jenis makanan atau obat-obatan. Apa yang berkaitan dengan warna urin?
1.      Kuning
Zat warna normal dalam jumlah besar: urobilin, urochrom. Zat warna abnormal: bilirubin. Pengaruh obat-obat: santonin, riboflavin, atau pengaruh permen. Indikasi penyakit: tidak ada (normal).
2.      Hijau
Zat warna normal dalam jumlah besar: indikan (indoxilsulfat). Pengaruh obat-obat: methyleneblue, evan's blue. Indikasi penyakit: obstruksi (penyumbatan usus kecil).
3.      Merah
Zat warna normal dalam jumlah besar: uroerythrin. Zat warna abnormal: hemoglobin, porfirin, porfobilin. Pengaruh obat-obat: santonin, amidopyrin, congored, atau juga zat warna makanan. Indikasi penyakit: glomerulonevitis nefitit akut (penyakit ginjal), kanker kandung kencing.
4.      Cokelat
Zat warna normal dalam jumlah besar: urobilin. Zat warna abnormal: bilirubin, hematin, porfobilin. Indikasi penyakit: hepatitis.
5.      Cokelat tua atau hitam
Zat warna normal dalam jumlah besar: indikan. Zat warna abnormal: darah tua, alkapton, melamin. Pengaruh obat-obat: derivat fenol, argyrol. Indikasi penyakit: sindroma nefrotika (penyakit ginjal).
6.      Serupa susu
Zat warna normal dalam jumlah besar: fosfat, urat. Zat warna abnormal: pus, getah prostat, chylus, zat-zat lemak, bakteri bakteri, protein yang membeku. Indikasi penyakit: infeksi saluran kencing, kebocoran kelenjar limfa
III.            Alat dan Bahan
No
Alat
No
Bahan
1
2
3
4
5
Tabung Reaksi
Gelas Kimia
Pipet Tetes
Gelas ukur
Kertas saring
1
2
3
4
5
6.
Urine
Lodium tinetur 1%
NaCO3 30%
Ca Cl2 20%
HCl dalam alcohol
BaCl2 10%

IV.            Cara Kerja
A.    Pemriksaan Billirubin dalam urine dengan reaksi cincin menggunakan lodium.
1.      Kedalam tabung reaksi dimasukkan 5ml urine dan ditambahkan ½ Jodium tincture (1% Jodium dalam alcohol) dengan hati-hati.
2.      Bila terlihat adanya cincin hijau pada batas antara kedua larutan tersebut, maka dikatakan reaksinya (+), yang bermakna bahwa terdapat bilirubin dalam urin yang diperiksa tersebut.
B.     Pemriksaan bilirubin dengan reaksi Huppert Salkowsky – Steensma
1.      Kedalam tabung reaksi masukkan 5 ml urine bersifat asam ditambah 5 tetes Na2CO3 20% dan 10 tetes CaCl2 20%.
2.      Endapan disaring dan dicuci dengan air.



DAFTAR PUSTAKA

http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health%20News&y=cybermed|0|0|5|4580

http://obstetriginekologi.com/artikel/teori+landasan+pemeriksaan+zat+zat+warna+dalam+urin.html

http://medicalcom.wordpress.com/2011/04/21/urinalisis/                        

Gandasoebrata, R. 2009. Penuntun laboratorium Klinik Jakarta Timur:penerbit Dian Rakyat

Tjay, Tan Hoan & Kirana Rahardja. 2000. Obat-Obat Penting  Jakarta: PTElex Media Kompotindo.

http//www.google.com//urinalisis

Ganiswarna sulistia. 2007. Farmakologi dan Terapa, edisi V Jakarta:Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia


PEMRIKSAAN DARAH DI DALAM URINE

I.              Tujuan : Untuk mengetahui adanya darah di dalam urine
II.          Dasar Teori :
Bila dalam urine terdapat darah, keadaan ini disebut hematuria atau haemoglobinuria. Pada hematuria, selain haemoglobin dapat ditemukan juga sel darah merah yang masih utuh. Sedangkan pada keadaan haemoglobinuria hanya terdapat pigmen Hb. Hematuria terjadi karena darah masuk kedalam urin, misalnya pada radang atau kerusakan ginjal dan saluran urin. Haemoglobin dapat terjadi karena hemolisa, sehingga Hb dibebaskan misalnya pada keadaan penyakit malaria, transfuse dengan darah yang tidak sesuai, alergi terhadap obat-obatan tertentu dan kelainan kognital yang menyebabkan eritrosit mudah pecah.
Darah dalam urine disebut hematuria. Jika darah tersebut dapat dilihat dengan mata telanjang, disebut gross hematuria. Sedangkan jika darah hanya dapat dilihat dibawah mikroskop disebut hematuria mikrokopik.
Jika timbul hematuria, berarti telah terjadi kebocoran pembuluh darah dalam sistim saluran kemih, mungkin di ginjal, perlvis ginjal, ureter, kandung kencing, atau uretra.
Beberapa penyebab hematuria adalah:
·         Infeksi saluran kencing
·         Infeksi ginjal (Pielonefritis)
·         Glomerulonefritis
·         Batu ginjal atau batu buli-buli
·         Pembesaran prostat
·         Kanker ginjal atau prostat
·         Gangguan bawaan seperti anemia sel sabit, sindrom Alport
·         Cedera ginjal
·         Obat-obatan : aspirin, penisilin, warfarin, heparin, siklofosfamid.
·         Olahraga berat
Tidak ada pengobatan spesifik untuk hematuria. Pengobatannya tergantung pada penyebabnya:
·         Infeksi saluran kemih, biasanya diatasi dengan antibiotik.
·         Batu ginjal, dengan banyak minum. Jika batu tetap tidak keluar, dapat dilakukan ESWL atau pembedahan.
·         Pembesaran prostat, diatasi dengan obat-obatan atau pembedahan.
·         Kanker, dilakukan pembedahan, untuk mengangkat jaringan kanker, atau kemoterapi.
Faktor risiko untuk hematuria adalah orang berusia 40 tahun atau lebih, merokok, pekerjaan yang sering membuatnya terpapar bahan kimia, mengkonsumsi obat tertentu atau pernah melakukan iradiasi tulang panggul.
Ada 3 tipe hematuria, yaitu:
1.      Initial hematuria, jika darah yang keluar saat awal kencing.
2.      Terminal hematuria, jika darah yang keluar saat akhir kencing. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya tekanan pada akhir kencing yang membuat pembuluh darah kecil melebar.
3.      Total hematuria, jika darah keluar dari awal hingga akhir kencing. Hal ini kemungkinan akibat darah sudah berkumpul dari salah satu organ seperti ureter atau ginjal.
Keluhan memegang peranan penting untuk menentukan ke arah mana pemeriksaan selanjutnya, seperti kapan terjadi hematuria, bagaimana nyerinya dan daerah mana yang terasa nyeri apakah di pinggang, perut bawah atau perut bagian tengah.
Untuk mendiagnosis hematuria biasanya dilakukan tes urin dengan menggunakan dipstick, jika hasilnya positif terdapat darah maka dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan mikroskop, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan cytology urine dan pemeriksaan fisik.
Jika dalam analisis urine ditemui adanya protein, nitrit atau leukosit, maka kemungkinan terjadi infeksi pada saluran urine (urine tract infection / UTI) yang bisa disebabkan oleh bakteri ataupun virus.
Hematuria bisa menjadi indikasi adanya gangguan yang serius pada tubuh dan biasanya terjadi tanpa adanya gejala yang muncul sehingga sering diabaikan. Selain itu, mengonsumsi air putih yang banyak sehingga warna urinenya lebih jernih tidak bisa menyembuhkan hematuria.
III.            Alat dan Bahan
No
Alat
No
Bahan
1
2
3
4
Tabung Reaksi
Gelas Kimia
Gelas ukur
Api Bunsen
1
2

Urine darah
Na OH 10%


IV.            Cara Kerja
A.    Reaksi Heller
1.      Kedua tabung reaksi masukkan 2,5 ml urine darah
2.      Tambahkan ½ ml NaOH 10%, lalu panaskan
3.      Kemudian endapan diperiksa.

http://www.smallcrab.com/kesehatan/791-mengenal-hematuria-atau-darah-dalam-urine

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar